Saya, Bintang Timur, Twin-Head Syndrome, dan Ketakutan akan Masa Depan

Saya yakin semua hal yang di dunia ini pasti diciptakan dengan fungsi tertentu yang tujuannya melengkapi yang lain. Begitu juga dengan keberadaan saya, saya yakin Tuhan tidak sekedar ‘iseng’ saat melepas saya ke dunia–bukan hanya untuk menambah sesak dan ikut rebutan O2.

Sebenarnya dalam agama yang saya yakini sudah sangat menjawab ‘Untuk apa kita di dunia?’. Dijelaskan bahwa saya hidup untuk beribadah kepada Tuhan, sudah hanya itu. Dan saya tahu bahwa konteks ‘beribadah’ di sini bukan sekedar ‘menghadapkan wajah ke makkah’ ataupun ‘ritual’ ibadah lainnya. Segala yang saya lakukan asal berazaskan kebenaran maka itu juga ibadah. Mudah-kan? Kedengarannya mudah, tapi tidak boleh dipermudah apalagi dipersulit.

Kebanyakan pertanyaan yang saya aju

kan, dijawab oleh diri saya yang lain–yang sosoknya hampir sama dengan saya namun lebih bijaksana. Saya memang lebih sering melakukan ‘dialog’ ke dalam daripada keluar. Seakan semua pertanyaan tentang kehidupan bisa ‘dia’–sisi lain saya, dijawab semua dan dengan jawaban yang memuaskan. Monolog demi monolog perlahan keluar dari diri saya kemudian dijawab oleh diri saya yang lain. Mencoba menjelaskan apa yang harus dilakukan diri saya pada situasi tertentu.

Banyak yang mencoba mendeskripsikan diri saya, termasuk teman-teman, sahabat dan keluarga. Semua dengan deskripsi masing-masing yang sering kali berbeda kutub. Terbawa oleh suasana, saya yang awalnya enjoy dengan -undefined me- yang selama ini saya anut akhirnya ikut-ikutan mencoba mendeskripsikan diri saya sendiri. Membuka-buka buku psikologi, grafologi, bahkan sampai horoskop. Setelah beberapa sumber saya jadikan satu, hasilnya berantakan, masing masing punya definisi sendiri tentang saya; dari sisi psikologi seperti ini,  kalau dari tulisan tangan seperti ini, kalau dari golongan darah seperti ini, kalau dari horoskop seperti ini. Malah tak bertemu di satu titik, melainkan memutar.

Semesta seorang saya adalah konstelasi dari banyak bintang yang akhirnya melukiskan bayangan diri saya. Absurdnya, bintang-bintang di konstelasi saya ini ukurannya sama, warnanya sama, Sulit untuk menunjuk satu bintang sebagai fokus, tujuan saya. Begitulah saya, hidup di semesta yang konstelasinya saya ambil dari bintang-bintang di konstelasi lain yang saling berjauhan. Salah satu bintang saya adalah ‘menulis’, sinarnya kadang redup kadang menyala-nyala. Belum bisa dikatakan bahwa bintang ‘Menulis’ adalah ‘Bintang Timur’ saya. Bintang yang lain adalah bintang ‘Penguin’, saya ragu apakah ini benar-benar bintang saya ataukah hanya tuntutan. Masih banyak bintang yang lain, seperti bintang ‘Musik’, bintang ‘php’, bintang ‘Baca’, dan sejuta hobi saya yang masing-masing diwakili oleh satu bintang. Terbayangkan bagaimana menggambar konstellasi dengan begitu banyak bintang yang ukuran dan intensitas cahayanya sama. Lukisan itu akan seperti gulungan benang kusut nan basah yang dimainkan seekor kucing. Ruwet. Sampai saat ini saya masih mencari ‘Bintang Timur’ saya, saya yakin itu ada, hanya saat ini sedang bersembunyi di balik awan. Saya juga tahu yang harus saya lakukan hanya menyibak awan itu lalu menemukan bintang saya; atau malah menghidupi salah satu dari sekian banyak bintang tadi kemudian menjadikannya tempat tinggal.

Makin kesini makin banyak monolog yang belum terjawab. Apa yang saya alami ini saya sebut dengan ‘Twin-Head Syndrome’; atau ‘Sindrome Kepala Dua’. Ketakutan-ketakutan akan masa depan. Ketakutan pada usia 20. Saya yakin saat mulai beranjak 20, makin banyak pertanyaan yang akan diri saya ajukan ditambah dengan pertanyaan-pertanyaan dari orang lain, terlebih orang terdekat. Misalnya saja ‘Skripsi/ TA apa?‘, ‘Wisuda kapan?‘, ‘Ibu dikenalin dong sama pacarmu!‘, ‘Kapan-kapan diajak ke rumah ya?‘, ‘Habis lulus mau ngapain?‘, ‘Kerja di mana?‘, ‘Kapan nikah?‘, ‘Kapan punya anak?‘. Saya sangat yakin bahwa satu-persatu dari pertanyaan diatas akan muncul dari mimpi saya sebagai sebuah realita. Urut, persis, terjadi di 10 tahun ketiga dalam kehidupan kita, mulai usia 20 sampai 29.

Kejelasan masa depan adalah suatu yang sangat didambakan setiap orang, termasuk saya. Bukan berarti masa depan saya akan gelap, tapi selalu saja ada ketakutan, kecemasan terhadap apa yang akan terjadi nanti. Takut tidak lulus dengan nilai maksimal, takut tidak dapat pekerjaan, takut tidak punya pacar, dan yang paling saya takutkan adalah takut kalau saya mati sebelum saya benar-benar hidup. Bukankah menakutkan hidup setengan zombie terpaku pada ritunitas dan ritual-ritual. Ahhh.., kecut rasanya.

Saya sebenarnya tahu cara mengatasi kecemasan dan ketakutan itu, yakni dengan sesegera mungkin menemukan bintang timur saya. Melakukan listing apa-apa yang harus saya lakukan dan yang paling penting adalah saya mengakui dengan sepenuh kesadaran bahwa saya takut masa depan–yang akan sedikit melegakan dan mengurangi kecemasan saya. Setiap dari kita–termasuk saya tentunya ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi dengan keyakinan penuh dan mantab bukan? Lalu apa yang harus saya lakukan selanjutnya? *kemudian hening* *kemudian mati* | Apakah seperti itu? Lagi-lagi mengecap ada rasa kecut di lidah…

Ada begitu banyak keyakinan yang saya yakini saat ini, termasuk saya yakin bahwa keadaan ini tidak seruwet apa yang ada di mata saya. Saya hanya perlu menaikan posisi berdiri saya untuk melihat keadaan ini dari atas atau caya coba merendah untuk melihat akar keadaan ini. Ini memang buruk, tapi tidak seburuk yang saya pikirkan. Kalau saya terus berkutat dengan keadaan ini, pada pemilihan bintang tadi, pada pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan, pada kecemasan dan ketakutan; yang akan terjadi adalah saya diam, meringkuk disudut tergelap dari kehidupan, tanpa bisa menentukan ‘Bintang Timur’ saya, menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi dengan jawaban yang tidak hanya memuaskan hati saya namun juga membanggakan yang bertanya, dan akhirnya saya bisa menjalani 10 tahun ketiga ini seperti zombie.

So? Yes!
Saya tahu benar bahwa yang harus benar-benar saya lakukan sekarang adalah berfokus pada penyelesaian keadaan tadi. Menentukan siapa saya, apa yang saya inginkan, menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi dengan memuaskan dan membanggakan. Disertai dengan apa yang saya jelaskan di satu paragraf setelah paragraf pertama, dan keyakinan.

Kapan harus mengalir mengikuti arus, kapan harus melawan, kapan harus menikung; kapan harus berutinitas, kapan mengandalkan spontanitas; kapan harus realistis, kapan harus imajinatif. Semua ada waktunya dan saya harus pahami itu. Haruskah saya tuliskan satu-satu? Mengalir itu saat dimana saya bisa belajar dari apa yang saya jalani, melawan arus itu saat keadaan sudah tak lagi menuju tujuan saya, menikung itu saat saya dihadapkan pada persimpangan | tikung kanan tikung kiri |, rutinitas yang dijalani dengan kesadaran penuh bukan sekadar ritual atau tradisi, spontan itu menegangkan!, realistis sesuai keadaan dan yang terakhir tak pernah berhenti untuk membuka tabir mimpi.

Ada rasa lega setelah apa yang telah saya lakukan di atas, menuliskan sebagian dari yang saya pikirkan hari ini. Setidaknya dengan ini saya berusaha mengabadikan apa yang saya alami dan apa yang seharusnya saya lakukan. Saya tidak tahu tentang bagaimana tulisan ini, apakah kacau, apakah tidak bernyawa, hambar, entahlah. Barangkali setelah ini saya akan membaca ulang tulisan ini. Baru kali ini saya menulis selancar ini, lebih dari 1000 dalam waktu kurang lebih 2 jam.

Ini memang curhatan, tapi menurut saya ini curhat berkelas, bukan curhat cengeng yang hanya mencecar dengan permasalahan tanpa sedikitpun mencoba menyelesaikan permasalahan itu sendiri. Bagi saya penting rasanya menyelesaikan masalah sebelum oranglain tahu masalah saya, bahkan jangan sampai mereka menawarkan bantuan. Percaya! Semua orang punya masalah, try to face it by your self first! Saya mencoba meminimalkan keadaan dimana saya harus merepotkan oranglain untuk terlibat dalam masalah saya. Diusahakan ‘ojo ngrepoti’lah.

Di sini saya menggunakan kata ganti orang pertama ‘saya’ bukan tanpa maksud, saya harap ini lebih mengena pada diri saya, bukan sekadar wacana yang setelah di ‘post’ kemudian tenggelam seiring waktu, selain itu saya harap juga lebih mengena kepada anda.

Apalagi yang hendak saya tulis? Apakah masih kurang atau ada yang ketinggalan?  Mungkin cukup ini dululah.
Terimakasih🙂

3 thoughts on “Saya, Bintang Timur, Twin-Head Syndrome, dan Ketakutan akan Masa Depan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s