Single-Boot Linux? Why not!

Yes! Akhirnya saya sudah secara resmi memasang Linux sebagai satu-satunya OS di laptop saya😀. Ya seperti yang saya targetkan pada post sebelumnya, bahwa 10 Maret harus sudah ‘single-boot’ Linux.

Setelah perdebatan dan kebimbangan antara memilih Ubuntu atau Debian. Kalau pakai Ubuntu, stabilitas saat digunakan di laptop saya agak kurang; terutama Ubuntu 11.10. Nah kalau pakai Debian memang stabil tapi agak kurang familiar dengan desktop dan lingkungannya. Jadi akhirnya saya ambil jalan tengah. Saya mencoba menginstall Linux Mint 12, yang merupakan turunan dari Ubuntu 11.10:D. Selama pemakaian kurang lebih 5 hari, saya merasa cukup puas menggunakan Linux Mint, cukup stabil dibanding Ubuntu 11.10, selain itu lebih menarik karena sudah menggunakan GNOME 3 (saya kurang suka Unity yang ada di Ubuntu 11.10).

Secara umum kebutuhan saya sudah terpenuhi di Linux, terutama masalah program-program pendukung kuliah, misalnya

  • FreePascal » di Linux menggunakan Geany, lebih komplit dan tidak merusak mata😀
  • Delphi » di Linux ada Lazarus;
  • Scilab » untuk Linux ada;
  • Office » sudah hampir setahun menggunakan LibreOffice di Windows;
  • Dreamweaver » ada Bluefish;
  • UML Editor » ArgoUML di Linux juga ada;
  • Editor grafis » ada Inkscape & GIMP;

Saya rasa itu sudah lebih dari cukup, sekarang hanya tinggal pembiasaan saja:D

Beberapa alasan yang mendasari saya bermigrasi ke Linux antara lain:

  • witing tresno jalaran saka kulino, membiasakan memakai linux agar wawasan saya terhadap linux semakin luas dan berkembang,
  • sebagai bukti kesungguhan saya untuk benar-benar  menggeluti linux,
  • jikalau masih dual-boot pasti cenderung masuk ke Windows, maka single-boot adalah tantangan,
  • laptop sudah menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya, tanpa ada intervensi oleh pengguna lain yang masih menggunakan WIndows,
  • semua kebutuhan saya bisa tercover di linux,
  • menjauhkan saya dari keinginan untuk maen PES, NFS, CoD, dll
  • tidak ada alasan untuk tetap di Windows.

Sebenarnya mudah kok untuk memulai awal baru dengan single-boot linux, hanya perlu kenakatan dan keberanian. Pertama-tama yang harus dilakukan adalah survei dulu kebutuhan aplikasi, cari aplikasi pengganti yang bisa jalan di linux. Kemudian pilih distro-nya, seperti yang saya lakukan tadi. Masing-masing distro punya keunggulan dan spesifikasi masing-masing, untuk desktop atau laptop pribadi saya sarankan menggunakan Debian atau turunannya, termasuk Ubuntu, Linux Mint, Sabily, bahkan BlankOn😀. Setelah pilih-pilih ya tinggal dilakukan. Backup data yang ada di Windows, kemudian install linux, dan format drive system Windows. Kenapa harus diformat? Untuk mencegah keinginan kembali ke Windows:D. Menginstall ulang Windows beserta aplikasinya membutuhkan waktu yang tak singkat bukan? Mending install dan pakai linuxnya saja:D. Kegiatan diatas sama persis seperti yang saya lakukan, setelah 2 tahun dualboot Windows – Linux, saya rasa sudah cukup mampu untuk meninggalkan Windows dan beralih ke linux:D. Jangan ragu!

Berikut beberapa gambar dari desktop Linux Mint saya😀

»login screen
»desktop
»startmenu
»gnome3 view
»76GB Drive C:/ yang saya format😀

»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s