Untitled (1)

Tercenung aku melihatnya tanpa permisi merangsek masuk ke kamar kost ku, masih beratribut lengkap layaknya wanita yang akan malam mingguan. Hanya berpandangan sesaat, kemudian dia menjatuhkan diri ke kasur, BUG, lalu sesenggukan.
“Ahh., paling sama seperti yang lalu; masalah dengan kekasihnya.”
batinku.
Segera saja aku bangkit untuk menutup pintu kost, ya walaupun penghuni kost yang lain sudah akrab dengan sosok Cellia akutetap tidak enak dengan mereka. Ini kali kedua di  bulan ini dia seperti itu.  3 minggu yang lalu dia datang dengan keadaan yang sama, tapi sepertinya lebih parah. Wajahnya merah padam, tanpa kata-kata, hanya sesenggukan, dan akhirnya tertidur lelap di kostanku.
“Paling-paling dia akan tidur disini lagi malam ini. Dia memang seperti itu, menganggap kost ini sebagai rumahnya, mungkin lebih tepatnya tempat pelarian”, ungkapku lirih sambil memandanginya lalu kembali menggeluti tugas yang dari tadi sore belum juga selesai. Tiba-tiba suaranya menghentikan ketukan jarikudi papan keyboard;
Daru, bisa belikan aku makan malam? Aku laper banget ni”
. Kaget, ternyata tebakanku meleset.
“Mau makan apa? Nasi goreng Mang Edi aja ya?”,
tanyaku mengkonfirmasi.
“Terserah deh, tapi jangan pedes-pedes ya, ohh iya sama telurnya didadar aja, jangan dicampur”,
jawabnya serak dengan wajah yang tetap terbenam diantara bantal.
“Katanya terserah kok banyak mintanya, cewek aneh”, jawabku sebal sambil melihat jam. “duh, semoga masih ada”, harapku karena memang sudah hampir tengah malam.

20 menit kemudian aku balik ke kost dengan membawa sebungkus nasi goreng sesuai pesanan Cellia. Mang Edi bilang ini porsi terakhir, “beruntung kamu Cell’, kataku dalam hati. Ku dapati Cellia dengan keadaan yang lebih baik, duduk dengan memeluk guling diatas kasur. Wajahnya lebih berseri daripada saat pertama masuk kesini. “Mungkin sudah cuci muka..”
“Ini spesial dari Mang Edi buat Neng Cellia, buruan dimakan. Sendok dan piring ada di tempat biasa, kalau mau minum silakan ambil sendiri. Sudah hafal tempatnya to?”. Cellia hanya mengangguk pelan. Aku serahkan bungkusan itu dan kembali ke apa yang aku seharusnya lakukan sedaritadi.

Aku hanya mencoba berkonsentrasi pada beberapa pasal yang harus dianalisis sesuai perintah dosen. “Orang hukum itu plin-plan”, geramku di depan laptop menatap lembar demi lembar softcopy undang-undang. Coba aku tengok Cellia, mungkin dengan begitu aku bisa mendapat inspirasi darinya lagi. Kulihat dia dengan semangat menyuap nasi goreng yang tadi aku belikan.
“Sudah sejak kapan Cell ga makan? Khusyuk banget makannya?
“. Dia hanya menjawab dengan senyuman, tak lebih.

Akupun kembali ke tugas, berharap senyuman Cellia barusan bisa menjadi moodbooster, sehingga tugas ini bisa segera selesai.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Ru, aku boleh cerita?”, kata Cellia membuyarkan konsentrasiku. Rupanya dia sudah selesai makan.
“Cerita saja, tentang apa? Cowokmu?”, jawabku datar, tanpa menoleh. Tanpa mendengar jawabanku dia mulai nerocos, bercerita tentang cowoknya yang katanya ‘brengsek’, meninggalkannya demi cewek lain yang bla..bla..bla.. Kemudian kupasang earphone dan memainkan beberapa symphoni mozart favoritku. Dengan sesekali meng-iya-kan, atau memberi tanggapan datar seperti “Ooohh”, “Waahh”, dan sejenis itu. Aku sudah hafal dengan cerita-cerita seperti ini, cerita cintanya dengan banyak lelaki. Aku juga hafal dengan siklus percintaannya, tiap kali dia putus selalu berakhir dengan tidur di kostan-ku, kemudian dilain hari dia kenalkan pacar barunya padaku. Jujur aku tak ingin mendengarnya lagi, aku lelah.
“Aku ingin punya cerita cinta sendiri denganmu, Cell“. Hmmhh., kuambil nafas dalam untuk meredam kata-kata itu agar tidak keluar dari mulutku.

Hampir 1 jam berlalu. Hening. Playlist-ku sudah habis, tak terdengar lagi suara serak khas Cellia, aku tengok dia.
Manis sekali”, batinku.
Tugasku tidak terasa ikut rampung ketika Cellia selesai bertutur. Kupadamkan komputer jinjing itu sambil bangkit merengangkan otot yang kaku selama duduk tadi, “sepertinya aku tidur di karpet lagi malam ini”; bergegas mengambil sarung dari lemari, membersihkan karpet kemudian terlelap.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pagi yang sama, aku lihat Cellia sudah tidak ada ditempat terakhir dia berbaring. “Haha, dia semakin mirip jelangkung, datang nggak diundang, pulang nggak bilang-bilang. Cellia sudah pergi (lagi), entah kemana. Yang ditinggalkannya hanya secarik kertas yang bersandar di gelas yang berisi teh hangat.

dear Daru,
Thanks banget buat tumpangannya, buat telinganya dan yang pasti buat nasi gorengnya (enak banget taukk!!)😀

Ini ada teh anget spesial sebagai ungkapan terimakasihku padamu🙂
your beloved friend
Cellia V.

Aku hanya tersenyum simpul membaca surat itu.

*bisa berlanjut, mungkin juga tidak :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s