Personifikasi Bulan

Pernah membayangkan menjadi bulan?
Iya, bulan, satu-satunya satelit kepunyaan bumi. Jaraknya +/- 384.403km dari pusat bumi. Dengan diameter 3.474km tak anyal bulan menjadi benda langit terbesar yang terlihat di langit bumi. Muncul dengan pola tertentu dan terjadwal, rutin seperti itu. Kadang gelap tak terlihat, kadang terang tapi sinarnya teduh.

Lalu apa hubungannya dengan pertanyaan tadi? *kok malah bahas astronomi?
😀
Itu sekedar intermezzo, memoar SMP😀

Saya bayangkan bulan itu sebagai sosok yang misterius, dengan hanya satu ego yang dia tampakkan ke lingkungan dan menyimpan sisi lain yang entah seperti apa. Sifatnya selalu seperti itu, tapi dia pandai, merotasikan sifatnya sesuai dengan keadaan semesta kami, seolah dia adalah sosok yang berbeda ketika berada di semesta yang berbeda pula. Tentang sisilainnya, yang gelap, tak terjamah oleh kami; mungkin hanya dia sendiri yang tau. Menyimpannya dalam ruang gelap tersendiri, tidak dia biarkan kami mendekat bahkan sejengkal hanya untuk mengintip sisi gelapnya.

Dia terlihat setia, selalu berada di sekitar kami, selalu mengiringi perjalanan semesta kami, padahal dia semakin lama semakin menjauh, meski perlahan tapi pasti. Gaya tarik dengan lingkungan tak mampu mengikatnya. Saya pikir lingkungan juga tidak menyadari kepergiannya sampai dia benar-benar pergi dan hilang dari semesta kami.

Saat mengiringi semesta kami, dia-pun tidak menunjukkan sifat yang statis, wajahnya berbeda-beda kadang teduh, kadang redup, kadang hanya terlihat tajam bersudut, kadang membulat 360*.

Banyak yang begitu memujanya, menganggapnya seolah dia yang paling berjasa menerangi semesta kami. Tentu ini memberatkannya, dia tak seperti itu! Ekspektasi kami terhadap dia ternyata berlebihan! Dia hanya sekedar merefleksikan sinar yang diterimanya dari “matahari”, sosok lain yang selalu ‘spotlight-ed’ di semesta kami. Itulah dia bulan, membiaskan ‘spotlight’ yang diterima “matahari”, seolah semesta kami akan gelap tanpanya. Jadi harusnya kami tak berharap lebih padanya, apalagi mengharapnya bersinar terus.

Ahh, bulan tetaplah bulan, berjuang sendiri mengalahkan malam. Mengalahkan jutaan bintang lain, menjadikan mereka seolah tak berarti. Bulan juga rapuh, bersaing dengan mendung tebal yang menghalangi biaskan ke semesta. Bulan bahkan tak ada apa-apanya, dibanding dengan “matahari”, yang selalu mengalahkanya, membebaninya. Namun bulan juga tau bahwa dia dan “matahari” adalah sosok yang bertolak belakang, dunia berbeda, semesta yang tak sama. Biarlah bulan seperti itu. Saya rindu teduhnya senyum rembulan saat tengah bulan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s