Maaf, Aku Harus Wisuda..

Hai, apa kabar?

Suratmu aku terima kemarin lusa, awal Oktober tepatnya. Aku senang membaca ceritamu, tentang bukit belakang sekolah yang masih seperti dulu, tentang pohon mangga depan rumahmu yang berbuah lebat. Juga cerita tentang cerita-ceritamu di sana. Oiya aku penasaran dengan cerita tentang Tara, anak penjaga sekolah yang sekarang satu kampus denganmu; apakah benar dia telah menikah dengan mantan Kepala Sekolah kita dulu? Aku geli membayangkannya.

Hari ini hujan, hujan pertama di Jogja; hanya sebentar. Aku rasa tidak mampu membasuh luka kemarau, malah semakin menambah perih.

Kamu ingat hari ini?
4 tahun lalu kita berpisah di bandara, kamu mengantarku. Aku harus pulang, melanjutkan kuliah di Jogja. Sementara kamu menetap di Makassar. Ahh., aku kangen kota itu. Bagaimana pantai Losari sekarang? Apakah senja-nya masih memikat seperti senyummu? Kabari aku, bawakan juga gambarnya!

“Kamu harus pulang segera, banyak yang ingin aku ceritakan” tulismu di surat yang lalu. Aku sendiri bingung, kemana harus pulang? Dimana itu rumah, apakah bersanding bersamamu di sana atau tetap di sini? Aku rasa kamu sebaiknya mampir ke Jogja sekali waktu, banyak yang menarik di sini. Pernah aku bercerita tentang kopi jos; yang malah kamu sebut sebagai kopi arang; aku sarankan kamu untuk mencobanya. Sepertinya kamu akan cocok dengan nuansa kota ini.

Ini surat ke 13-ku padamu. Apakah kau menghitungnya?
Aku hafal setiap kata yang ada pada surat pertamamu, cerita tentang awal kuliah, dikerjai kakak angkatan, sampai cerita tentang angkot yang pecah ban-nya. Suratmu disini aku simpan rapi, sesekali aku baca ulang.
Kau percaya? Surat-suratmu, kopi, dan hujan adalah teman terbaik saat ini.

Apa surat-suratku masih kau simpan? Jika aku ke sana, aku ingin sekali membaca surat-surat ini, surat-suratku bersamamu; di bawah pohon mangga depan rumahmu yang perdu. Tapi sayang, tulismu pada surat yang lalu, pohon mangga itu terpaksa ditebang hingga kamu dan Rara adikmu kuwalahan untuk menghabiskan 3 keranjang penuh buah mangga.

4 tahun tertulis rapi dalam rangkaian suratmu. Waktu seakan cepat berlalu, secepat surat yang datang dan pergi dariku. Pernah kamu menyuratkan empat lembar folio, terlihat sangat tebal waktu itu. Tapi surat kemarin lebih tebal, meski hanya satu lembar folio. Ada kabar tentang wisudamu, kamu selipkan beberapa lembar foto disana. Kamu terlihat sangat cantik. Kamu juga menyertakan satu lembar undangan, undangan penikahan. Ada namamu di sana, bersanding dengan nama yang tak pernah ada dalam surat-suratmu–telah aku baca berulang kali–dan aku tidak menemukannya!

Undangan itu tertanggal 29 Oktober. Selain undangan, di dalam juga terselip permohonan restu dan kedatangan lengkap dengan tiket pesawat terbang. Sungguh aku ingin hadir hari itu. Tapi maaf, aku tak bisa. Aku wisuda hari itu. Titip salam untuk suamimu.

Jogja, Oktober 1999.

~~

2 thoughts on “Maaf, Aku Harus Wisuda..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s