Dia. Senja, Hujan, dan Kereta

Sekarang jam 5:13, dia baru saja bangun. Bahkan nyawanyapun belum sepenuhnya terkumpul. Di atas meja, telepon genggam itu terus menerus bergetar, cahayanya sedikit redup, kalah dengan bias senja yang menyelinap dari balik jendela. Masih belum sadar akan waktu, pria itu sedikit mengulet dan mengucek mata selayaknya orang yang baru bangun tidur. Entah berapa lama dia tidur, sepertinya sudah beberapa abad lamanya sampai dia sendiripun lupa.

Sebenarnya ini bukan kota tujuannya, malah belum ada setengah jalan. “Bandung 436KM” begitu yang tertulis di papan penunjuk arah. Dia berhenti di sini demi menemui seorang pria. Dia gundah, pria yang sedari tadi dia hubungi belum juga datang. “Bagaimana bisa datang, menjawab telepon saja tidak”, begitu gumamnya. Sudah 2 batang rokok dia habiskan, sudah 30 menit mungkin dia menunggu. Lelah, duduk menunggu di sudut peron stasiun kereta. Dia sebenarnya hendak pulang dalam waktu cukup lama. Ini kesempatan terakhir dia bertemu dengan pria itu, sekaligus sebagai tanda perpisahan.

Dia menggenggam secarik kertas, bukan hanya menggenggamnya bahkan meremasnya. Dia kesal mengapa waktu berlalu begitu cepat, mengapa kereta harus datang sekarang. Kereta yang akan membawanya melanjutkan perjalanan pulang. Sementara pria itu tak kunjung datang.

Dengan wajah panik dan tergesa-gesa, dia segera berlari keluar, melambai meminta sebuah taksi untuk berhenti. “Stasiun Tugu, ngebut ya Pak”. Hanya mengangguk, seolah mengerti bahwa pria yang sedang duduk di jok belakang sedang terburu. Segera menyalakan argo, segera melaju; begitu mungkin yang dipikirkannya. Taksi melaju, melintas jalan kota yang padat waktu bubaran kantor. Pria itu gelisah. Sambil mengamati jalan dia mencoba membunuh waktu dengan berkali-kali melihat jam yang tersimpul dipergelangan kanan tangannya.

Sepertinya ada yang janggal; dia merogoh sakunya satu persatu. Deg. Telepon genggamnya tertinggal di kamar. Pasrah dan menghela nafas, dia ingat bagaimana tadi dia hanya sempat melihat beberapa pesan dan panggilan masuk kemudian tergesa hingga sekarang sudah ada dalam taksi ini.

Masih tetap menggerutu. Mengapa kereta datang tepat waktu? Padahal biasanya terlambat, kadang sampai 2 jam, ucapnya dalam hati. Tak bisa dielakkan, kereta itu berhenti melintang di tengah stasiun. Banyak penumpang yang turun. Suara midi khas stasiun berbunyi, petugas berkata bahwa kereta tujuan Bandung berangkat 15 menit lagi. Berharap dan berharap, masih ada 15 menit, semoga dia segera datang.

Hujan turun deras. Langit menghitam. Suasana semakin sendu. Dia hanya bisa mengamati dari balik jendela. Taksi berjalan pelan. Macet rupa-rupanya. Bulir-bulir air hujan yang menetes diluar kaca mengaburkan pandangannya, membuat bayangan wajahnya sedikit terpantul.  “Mas, di depan sepertinya macet banget. Kita muter aja ya?”. Pertanyaan itu membangkitkan kembali kesadarannya. Dia mengangguk sambil kembali melihat waktu, semoga dia belum pergi.

Dia sampai sesaat selepas magrib. Langit sudah agak gelap. Senja merah pucat di barat. Sementara hujan sudah agak mereda. Suasana di stasiun masih ramai. Dia melangkah gontai menuju loket informasi. “Kereta ke Bandung sudah berangkat belum ya Pak?” begitu tanyanya pada petugas. “Sudah dik, 10 menit yang lalu”. Mengucap terimakasih seperlunya kemudian dia menunduk, berbalik lalu duduk di peron. Mencoba memutar otaknya, memutar kejadian sore ini. Seandainya dia tidak tidur, seandainya tidak hujan, seandainya dia masih disini. Dia kesal pada dirinya sendiri. Mengutuki hujan, mengutuki senja, mengutuki kereta, mengutuki dirinya sendiri. Kesempatan terakhir bertemu dengannya pupus sudah. Dia sudah ada dalam kereta itu, pulang untuk waktu yang lebih lama. Dia bingung harus berbuat apa. Apakah harus menyusulnya? Haruskah? Akhirnya dia hanya bisa merenung duduk di peron sendirian diantara lalu lalang keramaian.

“Pasti barusan sampai ya?” sapanya pada sosok pria yang sedang melamun itu. Dia kemudian duduk disampingnya. Mendengar suara yang tak asing, pria itu menoleh; kaget. Sepersekian detik kemudian, pria itu sudah memeluknya.

*lanjutin sendiri yak cerita nya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s