Penghabisan Kenangan

kisah sebelumnya>>

Sudah hampir 3 bulan sejak surat terakhirmu aku balas. Surat balasan darimu tak juga datang. Apakah suratku sampai? Aku cemas.

Apa kau marah karena aku tak bisa datang ke pernikahanmu? Sejujurnya aku sangat ingin hadir di sana, sekadar bertemu denganmu, menanyakan kabar, dan berkenalan dengan mempelai priamu. Sungguh beruntung pria itu bisa mendapatkan hatimu. Aku iri dengannya. Bagaimana pernikahanmu? Apakah semua lancar? Pasti kau terlihat semakin cantik dengan busana pengantin bugis. Aku hanya menebak, semoga tidak salah.

Hari itu, aku gelisah. Bukan gelisah karena hendak menghadap rektor untuk disilangkan tali toganya, tapi lebih karena ingin memburu waktu untuk segera pulang dan bergegas ke kotamu. Tapi apa daya, aku dikalahkan waktu. Bahkan aku tak sempat ke bandara, karena aku tau, pesawat yang sudah kau beli tiketnya untukku itu sudah terbang. Tak ada ekspresi gembira hari itu. Hanya gundah menyesali apa yang telah terjadi.

Usai hari itu aku dihujani kenangan; pun sampai hari ini. Bahkan lebih lebat dari yang sebelum-sebelumnya. Penyesalan demi penyesalan tumbuh subur dari kenangan yang kita tanam. Berbuah pada kemarahan terhadap diriku sendiri. Sungguh aku menyesali kebodohanku selama ini. Genap 8 windu kita bersama, tapi kenapa aku tak pernah jujur padamu? Jujur tentang perasaanku padamu? Aku geram pada diriku di masa itu. Bahkan saat kita berpisahpun rasanya lidahku kelu, kaku, tak mampu mengucap bahwa kamu begitu berarti bagiku. Hingga akhirnya kita terpisah jauh dan hanya bertukar kabar melalui goresan pena secara berkala.

Sekarang kau sudah tak mungkin lagi aku kejar. Kita tak mungkin lagi bersama. Kau sudah memutuskan untuk  menghabiskan usiamu dengannya. Kenangan tentang kita sebaiknya aku larung. Aku takut jika aku memendamnya; sewaktu-waktu tunas penyesalan itu akan tumbuh lagi.

Aku merestuimu. Merestuimu menikah dengan pria itu–yang tak pernah aku tau. Semoga dia bisa menjagamu lebih baik dari pada aku. Semoga dia terbaik bagimu. Semoga kamu bahagia dengannya. Selamanya

Sekali lagi maaf.
Maaf karena aku tak bisa datang ke pernikahanmu.
Maaf karena aku tak sempat mengungkapkan cintaku padamu.
Maaf untuk semuanya.

Terimakasih untuk kenangan yang indah. Terimakasih untuk semuanya.

Jogja, penhujung Desember 1999
ditulis untuk diri sendiri
Sena An.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s