untuk yang-akan-tetap-indah

ini akhir dari lembar kesembilan dari entah-berapa-halaman surat yang akan aku tulis. apakah aku harus menyebutnya sebagai surat? sementara tak ada asal dan tujuan.

di lembaran ini tercecer namamu dan namaku. sebagian ada yang terpisah halaman, sebagian lain ada yang menyatu sebagai ‘kita’. ini lembaran perjalanan kita, seperti diary, hanya saja tak selalu aku isi setiap hari. tulisan terakhir tertanggal 10 Februari, sebulan yang lalu; tentang makan malam bersama di tempat kita pertama kali bertemu. kamu membuatku ingin mengisi lembar ini lagi. 

membaca aku dari awal, pelan kemudian terjerembab dalam kenangan. menikmati ingatan setiap kejadian. tentang mimpi-mimpi kita, tentang kepercayaanmu yang selalu bisa menguatkanku. terimakasih.

pun kini, kamu telah jenuh. lelah untuk ada di sini. kamu tak mampu bertahan lagi. itu tak mengapa. tak sedetikpun aku menyesalinya.

maaf sudah terlalu lama membuatmu menanti. mungkin hatimu sudah tak ingin lagi. mungkin juga rasa itu sudah beranjak pergi. aku rela melupakanmu jika itu kehendakmu. percayalah, aku masih bisa.

terimakasih untuk lelah menanti.
semua yang telah tertulis dengan indah, tetap indah selamanya.
fin.

“kangen dan kenang. dua kata yang terbuat dari huruf yang sama. keduanya merujuk kepada-yang-tidak-bersama-kita.” – @hurufkecil (2013)

*terpantik oleh Bila Hatimu oleh The Rain; yang telah membuat saya merasa begitu bersalah. O:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s