#20thUdahNgapainAja

sebelum membaca #20thUdahNgapainAja ini, saya sarankan anda membaca yang gara-gara masadepan dulu.🙂

belakangan ini saya sering mempertanyakan kontribusi saya terhadap diri saya sendiri dan semesta. #20thUdahNgapainAja saya gunakan untuk mendaftar hal-hal itu, menulis setiap apa yang saya telah saya lakukan–yang sekiranya bermanfaat dari diri saya sendiri dan semesta di sekitar saya. butuh waktu yang lama untuk mendaftar hal-hal tersebut. bukan karena saking banyaknya, tapi karena susah menemukannya. apakah memang saya tidak berkontibusi positif selama ini?

#20thUdahNgapainAja, adalah sarana mendaftar life achievement (terimakasih pada mas @ReneCC atas istilah ini). bagi saya hidup itu harus ada maknanya, seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya.

berakar dari kecemasan dan kesadaran bahwa dalam usia setua ini belum banyak live achievement yang saya capai. sepertinya ada yang salah. atau apakah saya kurang bersyukur? mmm, sebentar, bagaimana kalau bahasan tentang agama kita simpan belakangan. semua masalah pasti akan selesai kalau dibahas dari sudut pandang agama, dan saya tidak mau nrimo begitu saja bahwa saya kurang bersyukur, tapi ini memang ada yang salah.

live achievement, mungkin bisa diukur dari pencapaian atau pendapatan secara materil, misalnya umur 20tahun bisa beli mobil (pakai uang) sendiri, ya walaupun uang bensinnya minta orangtua itu mah belakangan yang penting bisa beli. atau umur 20tahun bisa jadi manager di perusahaan sendiri. atau 20tahun sudah jalan-jalan ke seluruh kota di Jawa, atau apapun. tapi live achievement  ternyata tidak melulu diukur dengan materi. yang jelas live achievement sebuah check point, titik klimaks dari sebuah usaha yang maksimal–sebelum melanjutkan usaha selanjutnya. apakah ini benar-benar penting sampai saya beneran fokus pada live achievement ini?

#20thUdahNgapainAja berawal tahun lalu, ketika beranjak 21st dan isinya tidak banyak. apakah saya harus memasukkan ‘bisa masuk ugm’ ke dalam list live achievement  saya? FYI, saya bisa masuk ugm hanya karena sekolah 3 tahun dan mengumpulkan nilai rapot. terlalu banyak campur tangan Tuhan dalam kejadian masuknya saya ke ugm. jadi untuk sementara saya tidak memasukkan ‘bisa masuk ugm’ ke dalam list live achievement. mungkin kalau sudah lulus, saya akan memasukkan hal tersebut ke list live achievement  dengan kalimat ‘ditakdirkan masuk ugm dan lulus dengan tidak kebetulan’. itu lebih masuk akal bagi saya.🙂

anggap saja saya masih dalam proses mencapai live achievement saya yang pertama. yup, list live achievement saya masih kosong, dan tidak ada kalimat yang saya cantumkan setelah #20thUdahNgapainAja.

live achievement sebuah check point, titik klimaks dari sebuah usaha yang maksimal

live achievement, berakar pada autentifikasi diri, kejujuran pada diri sendiri. ini masalah saya, saya itu 20% ikutan si B, 40% ikutan si C, dan prosentase-prosentase lainnya. awal tulisan ini adalah dari rasa iri pada teman-teman seumuran yang bisa mencapai sesuatu yang saya anggap itu ‘wah’ (entah bagi diri mereka sendiri), misalnya IP semester bisa 4, atau progress TA secepat kilat, atau bisa beli barang2 tertiary pakai uang sendiri, atau bisa  jadi assisten dosen, atau bisa jadi gitaris band indie, atau bisa memanage uang dengan baik, atau  bisa coding dengan tutup google/stackoverflow, atau nyelesein proyek, atau bisa makan dari aplikasi bikinan sendiri. siapa sih yang nggak gerah punya temen-temen kaya gitu? masa mereka bisa, semetara saya cuman nonton, dan kadang2 nonton-nya pun dibayari.  hal inilah yang bikin resah. kok hidup saya selow banget ya? atau saya kebanyakan tidur siang? *lagi, masalah syukur bersyukur kita bahas di belakang. tanpa bermaksud mengesampingkan agama *salim*

live achievement, dilakukan dengan passion. hampir mati saya mikir passion saya. dan memang menemukan passion itu tidak semudah menjawab soal UAS takehome matakuliah technopreneurship : 1. Apa passion anda? Jelaskan! Semalaman saya pikir jawabannya dan berakhir dengan kalimat.

saya rasa menemukan passion tidak semudah mengikuti kuliah techopreneurship dan tidak pula bisa menemukan passion ketika kuliah tersebut sudah selesai. saya mengenal kata ‘passion’ baru tahun-tahun terakhir dan menemukan artinya sekitar awal tahun lalu ketika membaca buku karangan Rene Suhardono. butuh proses untuk menemukan passion tersebut, dan saya rasa saya sedang dalam proses tersebut. mengikuti kuliah bapak adalah salah satu proses menemukan apa passion saya. jujur saya belum bisa menjawab pertanyaan bapak tentang apa passion. namun bukankah passion itu adalah apa yang saya senangi tapi beda dengan hobi? saya suka menulis, dan (mungkin) itu passion saya.

mungkin diksinya berbeda, tapi intinya hampir sama. ya kurang lebih kalimat di atas tersebut saya tulis pada lembar jawab yang kemudian dikirim melalui email.

apa itu passion sudah sering saya singgung di beberapa tulisan saya yang lalu. menemukan passion bukan perkara semudah mengisi lembar jawab tapi lebih ke trial and error, mencoba segala sesuatu. mencoba nulis, bosan? coba jadi vokalis band, bosan? coba jadi programmer. bosan? eh tapi itu tuntutan kuliah *terus coding lagi.

harus jujur untuk menemukan apa yang disebut passion. dan harus mengenal dirinya sendiri.

barang siapa mengenal dirinya maka dia mengenal Tuhannya

pernah dengar? itu hadist. redaksi aslinya silakan search di google😉

siapa saya? siapa saya tanpa embel2 duniawi lainnya. agak mumet ini, suwer! jadi menjadi diri sendiri dan berproses menemukan passion. bukan berpikir. lagi-lagi bukan hanya berpikir dan berasumsi apa passion saya, tapi dengan melakukannya. *dan saya kebanyakan berpikir -_-

live achievement, effort yang dibutuhkan banyak. berupa waktu, usaha, pikiran, dan hati. untuk mencapai live achievement butuh lebih dari sekedar kerja keras, tapi juga kerja cerdas dan pakai hati. biasanya live achievement itu pada hal yang memang kita punya passion disitu. lagi. live achievement itu tentang DO and FEEL. bukan hanya think.

live achievement, diukur dengan kontribusi dan impact. jelas. bagi saya live achievement  yang baik itu yang bermanfaat bagi orang lain dan punya efek (impact) positif bagi semesta. kalau live achievement tapi yang merasakan hanya diri sendiri itu menurut saya bukan live achievement, tapi hanya kejadian biasa, pencapaian individu. lalu apakah lulus itu punya impact bagi orang lain? silakan direnungkan sendiri.

live achievement brings the fulfillment. fulfillment. apa itu fulfillment? ya kalau secara harfiah bisa digambarkan sebagai kelegaan, kepuasan, kebanggaan dan kawan-kawannya. tapi menurut saya arti fulfillment itu sangat pribadi. setelah saya selesai menulis post ini mungkin itu bisa jadi live achievement yang bisa membawa fulfillment bagi diri saya. fulfillment itu juga urusan hati. lagi lagi butuh kejujuran.

live achievement itu ga cuman sekali, ada banyak live achievements, sampai akhirnya mati dengan fulfillment yang very-full.

live achievement dan bersyukur. 2 hal yang tidak bisa dipisahkan. mmm, mari masuk ke bidang yang lebih religius.

seperti yang sudah dituliskan bahwa live achievement itu klimaks dari usaha maksimal. tapi seperti apa? kadang ukuran-ukuran ini yang membingungkan. hal seperti apa yang bisa disebut sebagai live achievement, dan mana usaha yang sudah maksimal. lagi-lagi hal ini sangat personal. tanya pada hati dan jujur.

tidak ada yang tidak bisa disyukuri. matipun disyukuri (ya daripada hidup ngrepotin orang, alhamdulillah mati). live achievement and fulfillment itu urusan hati. dan kadang kalau tidak jujur akan sulit dirasakan. begitu pula kalau tidak bersyukur. harus bisa mensyukuri dulu apa yang sudah ada, baru bisa merasakan apa yang selanjutnya. jadi tetap harus bersyukur.

akan ada saatnya merasa jenuh, dalam hal apapun. bangun pagi gitu-gitu aja, bingung mau ngapain, atau malah bertanya ‘saya harus menyenangkan siapa hari ini?’, pas malam merasa bosan untuk tidur, kasur tak lagi nyaman. dan akhirnya terjebak pada kejenuhan terhadap rasa jenuh. bisa dikatakan ini masalah hati. ada sesuatu yang kurang, tentang ive achievement seperti apa yang mau dicapai, atau karena kurang bersyukur. 

urusan hati, itu berkaitan dengan Tuhan. jadi satu-satunya cara ketika merasa tidak puas dengan diri sendiri dan hidup, coba mendekat pada Tuhan.

semoga tulisan ini adalah selembar babak dari sebuah live achievement yang hendak saya capai. semoga saya lebih jujur pada diri saya, entah bagaimana caranya, dan saya tidak terlalu banyak berpikir dan bisa mengimbanginga dengan DO.

kalau ada yang tanya; “TAmu sudah selesai? kok bisa nulis post ini?” > jawab saya “bedakan antara kebutuhan kuliah dan kebutuhan diri, manajemen itu penting, tapi bukan berarti menajemen saya sudah baik. saya menulis ini agar saya bisa menulis TA dengan tenang. kamu pernah menulis TA sambil kebelet pipis? nah itu yang saya rasakan ketika belum menulis ini kemudian melanjutkan menulis TA. bedanya, tulisan ini ndak pesing!”

sekian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s