Imajinasi Menengadah

Tiba-tiba saya teringat ketika suatu saat saya mempertanyakan ‘kenapa ketika doa harus menengadah?’. Pertanyaan ini timbul jaman dahulu kala, ketika saya masih polos, ketika awal saya masuk TPA. Tanpa sungkan, pertanyaan pribadi saya tadi saya tanyakan kepada Bu Ustadzah. Saya masih ingat jawaban beliau, kurang lebih intinya begini:

Menengadah itu artinya pasrah, kita harus siap menerima apapun yang diberikan Tuhan sebagai jawaban doa kita.

“jadi nanti jawaban doa kita ditaruh ke tangan kita ya bu?” dengan polos saya bertanya seperti itu. Bu Ustadzahpun mengiyakan kalimat saya.
Kemudian saya merangkai imajinasi yang sampai sekarang masih saya ingat betul. Jadi ketika kita berdoa, Tuhan akan mendengar kemudian mengutus malaikat-malaikatnya (entah mengapa dalam pikiran saya malaikat-malaikat itu mungil seperti peri kunang-kunang yang bisa terbang). Malaikat-malaikat kecil itu membawa kotak kubus yang berisi jawaban dari doa-doa kita. Sehingga fungsi dari menengadahkan tangan adalah untuk siap menerima kotak jawaban doa tadi.
Tak lama kemudian saya kembali bertanya “terus kalau jatuh dari tangan kita gimana bu?”. Bu Ustadzah menjawab “kalau jatuh nanti masuk ke hati”. Cessssss rasanya lega mendengar jawaban Bu Ustadzah. Saya takut tangan saya waktu itu tidak cukup untuk menampung semua jawaban dari doa-doa saya.

Mari berdoa untuk guru-guru ngaji kita :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s