[Tips] Mendekati dengan Mahasiswa TA -d-a-n-P-S-K-

zzzz, jangan mesum dulu. saya tidak bermaksud membahas mahasiswi yang nyambi jadi psk ataupun mahasiswa yang memakai jasa psk.

Sebagai mahasiswa tingkat akhir, akrab rasanya dengan berbagai tekanan. Baik tekanan dari lingkungan (orang tua, teman, pacar, calon mertua, dsb), tekanan ekonomi (kebutuhan yang selalu ada dan kiriman orang tua yang tidak pasti), tekanan dosen pembimbing, dan tekanan psk eh fiq FOKUS! Tekanannya apa? Tentu tekanan untuk segera lulus.

‘Kapan wisuda? Kok lama banget? Skripsinya apa sih? Susah po?’

Tipikal dan stereotip. Kurang lebih pertanyaannya tak jauh-jauh dari itu. Sebenarnya saya sendiri juga tau bahwa kuliah lama itu tidak wajar dan harus segera diselesaikan. Tapi-kan nggak semudah itu (oke ini klise, tapi biarkan saya menyelesaikan tulisan ini dulu).

Banyak teman saya yang skripsinya sudah selesai dan sudah lulus (tapi banyak juga yang belum). Mungkin mereka yang sudah selesai itu skripsinya mudah, lancar, dan semua semesta membantu langkahnya. Seperti itu. Oleh sebab itu, orang-orang diluar diri kita menganggap, ‘kamu kok nggak kaya dia? Skripsi nggak selesai-selesai?’. Lagi, hal ini tak semudah itu. Mungkin semesta tidak menginginkan kami untuk lulus tepat waktu. Eits! Bukan salah semesta lhoh. Bukan salah apa dan siapa, karena hal tersebut lebih ke personal. Dan saya juga tidak terlalu ingin membicarakan progress dan excuse tugas akhir saya di sini.

Saya sepenuhnya sadar bahwa tidak segera lulus itu adalah suatu kesalahan, seperti seorang PSK yang menyadari bahwa menjadi PSK itu dosa. Ya semua tau itu, setidaknya bagi yang menganggap surga – neraka itu ada. Bagi saya (mahasiswa tingkat akhir) semua teori-teori tentang “cara cepat ngerjain skripsi“, “skripsi 7 hari jadi“, atau “skripsi bisa ditunggu” itu hanya bualan semata. Saya tidak mampu mengaplikasikan teori itu pada skripsi saya. Sama seperti PSK, tau tentang dalil-dalil Tuhan, tapi ‘ya gimana ya mas, kebutuhan ekonomi’. Jadi memberi tau bahwa skripsi seharusnya selesai tepat waktu dan sebagainya itu sama seperti memberi PSK dalil-dalil. Kami sudah tau. Hal tersebut tak membantu banyak.

Percaya, pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan seperti itu tidak membantu banyak, malah akan semakin menekan.

Lalu bagaimana pendekatan kepada PSK yang tepat? Ya tentu bukan dengan semakin menekan dengan pernyataan ‘kapan wisuda?’ dan pertanyaan ‘segera selesaikan!!‘ -disertai teori panjang * lebar. Mungkin bisa dimulai dengan

Mau sampai kapan kaya gini terus? Kamu nggak capek?

Diam sejenak, akan terdengar helaan nafas, kemudian sang Mahasiswa TA dan PSK akan bercerita panjang lebar. Intinya mereka akan berkeluh kesah tentang kenapa kok skripsinya tak kunjung selesai, apa hambatannya, kenapa kok jadi PSKprogress-nya sampai mana, excuse-nya apa, dan yang terpenting siapkan telinga anda untuk mendengar (tak perlu terlalu menyimak). Setelah selesai, kemudian tanyakan lagi,

‘terus mau sampai kapan?’

Disini, biarkan saya (selaku mahasiswa TA) berpikir, dan lebih pada perenungan dan kesadaran bahwa ‘saya butuh lulus’, ‘saya ndak mau jadi mahasiswa PSK terus’. Jadi yang meminta untuk berhenti dari keadaan sekarang bukan orang lain, tapi diri sendiri. Seharusnya dengan komunikasi yang intens kepercayaan (bukan tuntutan dan tekanan) dengan sendirinya objek (mahasiswa TA dan PSK) akan sadar, dan semakin termotivasi untuk mengerjakan TA dalam keadaan positif dengan dukungan zona nyamannya.

Tanpa sadar objek akan memberikan argumen-argumen yang membenarkan bahwa semua ini harus diakhiri. Tugas anda adalah membenarkan argumen tersebut dan menambah argumen tambahan berupa fakta, yang tidak dilebih-lebihkan dan tidak menyudutkan. Biarkan solusi datang dari dirinya sendiri. Sebenarnya objek tersebut sudah tau apa yang ‘salah’ pada dirinya sehingga semua itu terjadi lengkap dengan solusinya.

*seduh kopi*

masalah itu datang dengan solusi. masing-masing dari kita sudah tau solusinya, hanya butuh kesadaran, merendahakan ego, dan support dari orang lain

*sruput sik*

kenapa harus keluar dari zona nyaman? perluas saja.

Hasilnya tentu akan beda, yang berkarya di bawah tekanan dengan yang di zona nyaman. Zona nyaman bukan zona malas-malasan. Pffftthh.

Coba lebih hangat ketika menjalin perbincangan dengan mahasiswa TA dan PSK, jangan terlalu grusa-grusu dengan menanyakan pertanyaan stereotip tadi. Daripada anda bertanya seperti itu, lebih baik belikan mereka kopi sachet. Itu jauh lebih membantu progress mereka. Jika anda memulai pembicaraan dengan ‘keras’ dan menyudutkan, tentu yang timbul kemudian adalah meningginya ‘self defense’ dari objek tersebut. Siapa sih yang mau ditekan? Kemudian akan terjadi perang argumen (semua argumen anda akan langsung ditolak) dan berakhir dengan membanding-bandingkan. Menurut saya, manusia itu tidak seperti laptop yang bisa distandarisasi dengan ukuran dan spesifikasi tertentu. Masing-masing adalah satu. Beda dan tidak untuk dibanding-bandingkan. Maka mulailah dengan lembut dan intim (maksudnya perbincangan empat mata atau diskusi internal yang rileks), bukan dalam seminar atau forum yang luas dan semi-resmi.

Sekian tips untuk mendekati mahasiswa TA dan PSK.

regrads.
karena mahasiswa TA dan PSK ingin dimengerti🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s