duplikasi aplikasi dan hal-hal terkait di dalamnya

awalnya dari mana? mungkin lebih tepatnya iseng dan inkonsistensi.

Teknologi awalnya diciptakan untuk memudahkan manusia. sebagai jembatan dan alat bantu untuk sampai ke tujuan. Itu mungkin konsep awalnya. Dulu. semakin ke sini, yang awalnya memudahkan menurut saya kok malah jadi membingungkan ya. Misalnya begini: dulu kalau mau menghubungi teman opsinya hanya dua, telepon atau sms-bisa email sih, tapi toh jarang dipakai jadi bisa dikesampingkan-. Kalau sekiranya urgent, mendadak, dan butuh respon segera, gunakan telepon. Jika bukan prioritas utama bisa menggunakan sms. sekarang? oke, awalnya muncul BBM, kemudian Whatsapp, kemudian BBM di perangkat yang bukan Blackberry, kemudian KakaoTalk, Line, WeChat, Telegram, dan kemudian apa lagi? Pun tidak salah jika untuk kebutuhan dasar manusia seperti berkomunikasi seperti yang saya sebutkan tadi bisa menggunakan jejaring sosial. Jadi telepon, sms, BBM, Whatsapp, Telegram tadi masih harus disandingkan dengan Facebook, Twitter, Path, dan seterusnya. Padahal intinya sama: berkomunikasi. Kenapa bisa seribet ini? Haruskah punya kesemua layanan ini? Demi apa eksistensi? Di hadapan siapa? Orang yang itu-itu saja?

Banyak dari pengembang layanan dan produk digital berlomba-lomba untuk berinovasi dengan jenis produk yang sebenarnya fungsi utamanya sama. Saya punya aplikasi A, gunanya untuk mengirim pesan tepat waktu. Kemudian anda berinovasi dengan aplikasi B, yang bukan hanya mengirim pesan tepat waktu tapi juga bisa menjawab secara otomatis dengan pesan ‘OTW’. Tambahan sebuah ‘fitur’, dan jeng… jeng… aplikasi baru. Bahkan ada satu pengembang yang mengembangkan lebih dari satu aplikasi yang fungsi dasarnya sama. Silakan cek Google Play, cari Textra dan Chomp. Keduanya produk pengganti Messaging dari pengembang yang sama. Kira-kira tujuan pengembang apa sih? Menawarkan pilihan? Keuntungan? Riset?

Banyaknya pilihan kadang membuat saya pribadi sebagai pengguna kebingungan. Mau pakai yang mana? Saat ini saya hanya punya Twitter, Whatsapp, Instagram, Telegram. Facebook? Saya nonaktifkan beberapa waktu yang lalu. Path? Sempat punya, dulu awal 2013 kemudian semester awal tahun ini. BBM? Ya, saya sempat pakai juga, namun jengah dengan contact yang tiap menit update status BBM (apalah itu namanya) kemudian saya hapus.

entah kenapa, banyak orang yang sebenarnya menyenangkan di dunia nyata tapi menjadi begitu menyebalkan di dunia maya. -mungkin saya juga. maaf.

Twitter, ya sebagai sarana mendapat informasi terbaru. Lalu lintas di timeline sekarang cenderung sepi, banyak teman yang sudah beralih ke Path. Siapa peduli?😀 Senang rasanya mengikuti aku yang tidak saya kenal di dunia nyata tapi menyenangkan di dunia maya. Tidak peduli apakah dia ada atau tidak, setidaknya dia (setahu saya) tak pernah terlalu mengumbar ketidak-bahagiaannya di timeline. Dan itu bagi saya cukup.

Whatsapp, messenger sejuta umat. Aplikasi ini sukses membuat saya hanya menggunakan SMS ketika mengirim pesan ke ibu.

Instagram, jelas untuk melihat keindahan dunia; misalnya anakUIcantik, bidadariUGM, ITBcantik dan shahilamzah >_<

Telegram, hmm, secara fungsional mirip dengan Whatsapp. Tapi saya kasih tahu ya, kalau mau selingkuh silakan pakai messenger ini. Ada fungsi encrypted message dan fitur auto-delete message. Program buka cabang anda akan sukses tanpa ketahuan nyonya besar :p. Hehe, sebenarnya pakai Telegram karena jumlah anggota group-messanging 4x lebih banyak dari Whatsapp.

Yep, itu tadi alasan kuat yang membuat saya memakai empat aplikasi penghubung. Belum ada alasan kuat untuk beralih atau menggunakan aplikasi tambahan lain seperti facebook, path atau bbm. Semoga tetap seperti ini.

Selain itu, saya masih agak kurang konsisten. Misalnya e-mail, saat ini saya punya lima (5) alamat e-mail. Dua alamat e-mail dengan domain universitas, satu email microsoft, dan dua email google. E-mail universitas ya untuk kebutuhan akademik dan wifi gratis. Akun microsoft untuk Microsoft office 2013 online. Satu akun Google untuk media sosial dan daftar sana-sini, yang satunya email pribadi. Agak mumet memang  -____-” dan saya akui, ini memang tidak efektif.

Kemudian layanan yang duplikasi lainnya adalah layanan cloud storage. Saya punya tiga akun cloud storage, satu Dropbox dan dua Google Drive. Satu akun Google Drive pasif namun masih berisi file-file kuliah D3 dulu. Akun Google Drive yang lain masih saya pakai sebagai sarana penyimpanan bahan kuliah sekarang–kuota 65GB *promosi dari Motorola sampai 2016. Sementara Dropbox agak campuran, file-file project dan yang lebih file transit–kuotanya 28GB. Wow banget ya, hampir 100GB dan hanya saya gunakan < 10%. *kemudian kembali ke pertanyaan “internet cepat buat apa?”

Ya, kadang terlalu banyak pilihan itu membingungkan. Masing-masing arah menawarkan tantangannya tersendiri. Tanjakan, turunan, kelokan, fitur, kesederhanaan, kemudahan, kerunyaman, semua bisa ditawarkan kepada pasar. Tingkah pasar jaman sekarang memang beda. Kalau dulu sekadar membeli apa yang dibutuhkan, tapi sekarang membeli kebutuhan disisipi dengan keinginan. Dan itu dipahami dengan baik oleh para pengembang produk dan layanan digital. Mereka mencoba menerjemahkan apa yang dibutuhkan sekaligus diinginkan pengguna, atau setidaknya mengemas sesuatu yang sebenarnya tak penting menjadi hal yang harus digaris bawahi, dicetak tebal, dan miring.

beli.. beli.. beli.. beli.. beli.. dan beli..
….
kau terlahir di masa maha beli (fstvlst – hal-hal ini terjadi)

membeli dengan cerdas! mari minum dulu.

**sebenarnya awalnya niatnya bukan mau nulis tentang ini, tapi apa daya jari bergerak dengan sendirinya😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s