jangan jadi lilin. . . .

lilin

tiga jam hanya berbaring di atas kasur dan tidak segera terlelap membuat saya akhirnya menyerah. mungkin tadi siang saya belum bekerja terlalu keras. beranjak bangun, masuk kamar mandi sekadar kencing dan cuci muka kemudian duduk di depan meja kerja, menyalakan lampu dan laptop. menuang air dan minum, sekadar mengisi waktu sambil menunggu system-nya siap; maklum nafas tua. segelas air putih tandas diiringi munculnya layar biru.

set. set.. set…

buka sana sini, download sana sini kemudian berakhir di sosial media. gulir.. gulir.. gulir lalu terbacalah kalimat ini:

lilin

postingan itu dikirim oleh (mungkin) temannya teman saya yang kemudian dipost ulang oleh teman saya. sepintas nampaknya bijaksana dan benar, mungkin anda sependapat dengan postingan itu. tapi sejujurnya saya tidak sepakat dan berontak terhadap kalimat itu. *alasan mengapa kemudian saya menulis ini.

bukankah ‘sekali berarti sesudah itu mati’?

sekarang kita bahas lilin dan segala filosofi-atau apapun itu namanya-yang termaktub dalam postingan itu. pertama, ‘jangan jadi lilin’. jika anda punya pilihan jangan pernah jadi lilin. sekali lagi jika anda punya pilihan.
kedua, ‘yang menerangi saat gelap tapi dirinya lama kelamaan habis’. ini alasan mengapa anda tidak boleh memilih menjadi lilin, karena lilin akan habis karena menerangi kegelapan.

sebenarnya ini kembali lagi kepada prinsip bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. jika harus dengan menjadi lilin agar bisa bermanfaat bagi sekitar mengapa tidak? mengapa harus takut habis? bukankah mati dalam keadaan melayani itu adalah kemuliaan?

mungkin ini gambaran keadaan kekinian, dimana pengorbanan bagi sekitar itu dirasa sangat berat. apalagi jika harus mengorbankan diri sendiri. sehingga jika ada pilihan lain untuk menghindar dan menyelamatkan diri, maka selamatkan diri dulu. orang lain biar berusaha sendiri.

well,…

iseng kemudian saya mencari di google menggunakan kata kunci ‘jangan jadi seperti lilin’. hasilnya tak jauh beda. bentuk-bentuk lain dari postingan di atas. ada yang menulis bahwa ‘jangan jadi lilin, jadilah matahari. itu lebih bermanfaat’. hmm., mungkin karena lingkupnya lebih besar jadi disarankan menjadi matahari. tapi intinya kan sama, lilin maupun matahari, keduanya membakar dirinya sendiri untuk menerangi yang lain. Proses pada lilin jelas bisa kita lihat. matahari? teori fusi, silakan cari di wikipedia. pembakaran hidrogen pada inti matahari yang menghasilkan panas. sama, keduanya punya masa. lilin mungkin lebih singkat, jauh lebih singkat dibanding matahari. jelas karena tanggung jawab matahari jauh lebih besar. bukan hanya satu atau dua ruangan, tapi memberi keseimbangan di tata surya. mereka punya peran masing-masing, dan berbeda, dan tentu saja kurang layak jika diperbandingkan.

kembali ke postingan. mungkin yang diharapkan pengirim adalah ketika kita membantu orang lain jangan sampai kita berkorban. hmm, tapi mana bisa? membantu, apapun bentuknya pasti membutuhkan effort, minimal waktu–ya, padahal waktu adalah hal paling berharga. kemudian bagaimana bisa berkorban ketika masih ada itung-itungan? takut rugi, takut berkurang, takut mati.

moral dari cerita ini adalah ya ketika anda, saya memang ditakdirkan menjadi lilin, ya sudah, pasrah saja. lakukan hal terbaik yang bisa dilakukan sebagai lilin, meskipun itu mematikan.
ketika anda punya pilihan untuk tidak sekadar menjadi lilin, menjadi matahari mungkin. ya perputaran ‘tata surya’ ada di tangan anda. tetap lakukan yang terbaik, meskipun lama-lama anda akan mati (juga).

sekali berarti, sesudah itu mati.

4 thoughts on “jangan jadi lilin. . . .

  1. agak sedikit ndak nyambung tapi quote dibawah ini menarik untuk ditelaah.

    “When a man bleeds freely for the sake of others, it’s only proper to pretend that you never saw it.” – Musashi, from Eyeshield 21

    kalo anda selo, ada baiknya anda meluangkan waktu untuk baca nijigahara holograph dan oyasumi punpun bung… dan rasakan sensasinya…🙂

  2. kalau di manganya (eyeshield), konteks quote itu lebih kepada nasihat bahwa sebuah pengorbanan, baik karena terpaksa atau sudah sewajarnya, tidak perlu dibesar-besarkan, dipermasalahkan, atau diungkit-ungkit.

    iya manga bung. coba bacanya di batoto. kualitas scan-nya bagus disitu🙂

    nb: iki theme wordpress’e apik🙂

    1. ya, sepakat berkorban bukan hal yang spesial, itu manusiawi dan sebaiknya memang tidak perlu dibesar-besarkan.

      CTRL+D dulu :))

      saya kan cuma picking-up kemudian pake aja :”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s