Jogja – Depok 101 (2)

Sengaja saya beri jeda. Sekadar menyalakan pemanas air kemudian membuat milo hangat.

Di luar jadwal lewat ‘kereta penggetar kosan’ yang sebelumnya saya sampaikan, sebenarnya masih ada jadwal lain. Misalnya tengah malam seperti saat ini (sekitar pukul 03:00 pagi), kereta jenis itu akan lewat dan dengan klakson semboyan 35 yang terdengar jauuuhh lebih keras. Kos di sini mungkin bisa mengurangi phobia saya pada getaran tanah yang tiba-tiba.

Satu hal yang selalu menjadi pembeda antara Jogja dan daerah sekitar ibu kota adalah kulinernya. Lebih spesifik lagi adalah harga kulinernya terutama kuliner mahasiswa. Bagi Anda yang sudah pernah kuliah di Jogja tentunya sudah tau pasti berapa kisaran harga makanan di sana. Misalnya di belakang MIPA Selatan UGM, Anda masih bisa makan (nasi, sayur, gorengan 2) plus es teh dengan harga 5000 rupiah saja, dan pasti kenyang. Bagaimana dengan Depok? Dari awal saya sudah diwanti-wanti dan diceramahi oleh teman saya yang lebih dulu gawe di Jakarta tentang rentang harga makanan di sini. Dia berpesan bahwa makan dengan lauk ayam cukup seminggu sekali, biasakan pakai tahu, tempe, dan telur. Irit.

Butuh jam terbang dan coba-coba untuk menemukan tempat makan murah di sini. Biasanya warteg-yang pemiliknya benar-benar orang berlogak ngapak- cenderung lebih murah, kemudian burjo ‘kuningan’ juga lumayan, atau cari warung makan yang pemiliknya itu orang ‘jawa’. Kebetulan di sini saya sudah nemu yang seperti itu. Selain murah dan karakter rasanya masih pas di lidah, juga untuk memelihara ‘kejawen’ yang saya punya. Maksudnya adalah menjaga kemampuan berkomunikasi dengan orang lain menggunakan unggah-ungguh dan tata bahasa jawa. Murah dan mirip rumah.

Kalau Anda menyimpulkan bahwa saya masih dalam usaha memperluas zona berhati nyaman sampai ke Depok, Anda benar. Banyak cara yang saya lakukan untuk menciptakan kenyamanan ala Jogja di Depok tidak cuma itu. Yang paling efektif adalah via frekuensi.

Sejak Sephia mulai diperdengarkan dan menjadi pemuncak tangga lagu di banyak stasiun radio di Jogja, saya sudah menjadi pendengar yang budiman. Menggunakan radio AM-FM milik eyang dengan 2 baterai A sebagai dapur pacu daya saya mulai menikmati frekuensi. Menikmati Pejantan Tangguh, Berhenti Berharap, Dygta, Dengar Bisikku – The Rain, Selepas Kau Pergi – Laluna, 9 Tahun Cross Bottom, The Cat, Shakey, Sterevila, Es Nanas, Flanella, jebolan AFI, dan musisi lokal lainnya yang memang sedang naik pada zaman itu. Menghadirkan suara penyiar dalam ruang dengar sebagai teman. Kegemaran ini berlangsung sampai sekarang.

Ketika sampai di Depok, saya googling tentang list frekuensi radio. Ada banyak ternyata. Butuh beberapa malam untuk saya mencoba mendengarkannya secara bergantian. Satu minggu mencari belum ada yang cocok di hati dan telinga. Entah mengapa, lagu yang diputar di stasiun radio di sini terdengar itu-itu saja, dan pasif. Sebagai pendengar yang pernah jatuh cinta pada (suara) penyiar saya tentunya mencari tambatan hati selanjutnya. Di sini penyiarnya tidak terlalu mendominasi. Lagu hits nonstop diputar hampir dari jam 10:00 sampai 16:00. Bagi saya itu menjemukan. Acara pagi dan sore banyak terdiri dari banyolan dan guyonan. Acara malam bahas cinta, tapi sayang penyiarnya cowok. Mungkin komposisi siaran seperti ini cocok untuk telinga warga Ibu Kota. Pagi dan sore para pendengar butuh hiburan di macetnya lalu lintas, siang masih di kantor butuh suara-suara penyemangat, malam butuh dongen sebelum tidur.

Entah karena saya kurang sabar dalam mencari atau memang susah move-on, akhirnya saya kembali ke radio yang ada di Jogja. Ada dua stasiun yang saya dengarkan demi membawa suasana Jogja dan kamar, Swaragama FM dan Geronimo FM. Keduanya saya dengarkan bergantian sesuai dengan apa yang saya lakukan di Jogja. Pagi biasanya antene mengarah ke Swaragama. Lepas jam 9:00 berputar ke Geronimo. Jam 16:00 putar lagi ke Swaragama, begitu biasa yang saya lakukan dulu. Lagi-lagi tergantung program dan siapa penyiarnya. Sementara di Depok, saya perlu berpikir 3 – 4 kali untuk mendengarkan radio Jogja seharian penuh. Pernah suatu kali saya meniru persis apa yang saya lakukan dulu di Jogja, hasilnya adalah 2GB paket data habis hanya untuk membeli kenyamanan. Sekarang saya dengarkan Swaragama FM dan Geronimo FM hanya saat program dan penyiar favorit sedang mengudara.

Salah satu yang membuat saya kurang nyaman mungkin karena banyak radio di Jakarta menggunakan ‘lo’ -‘gue’ sebagai kata ganti. Social shock-saya menyebutnya seperti itu-adalah fenomena ketika ada orang dari kawasan Jawa Tengah dan Jogja untuk pertama kalinya bersosialisasi di kawasan Ibu Kota. Hal yang sama juga berlaku sebaliknya. Maklum telinganya masih beradaptasi dan cenderung sensitif.

Tidak terasa, sudah subuh rupanya.

~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s