Jogja – Depok 101

Setiap pilihan menghasilkan konsekuensi. Tak jarang konsekuensi itu memaksa kita untuk memilih lagi, seperti sedang berusaha untuk mengonfirmasi ulang pilihan kita. “Apa kamu yakin? Belum terlambat kok untuk kembali.”, begitu mungkin ucapnya secara verbal.

Terhitung hampir genap 2 bulan saya meninggalkan Jogja. Destinasinya di selatan Ibu Kota. Kota Madya kecil nan sesak. Perlu diketahui bahwa ini pengalaman pertama saya keluar zona berhati nyaman. Keluar untuk berdomisili, setidaknya selama masa studi. Bisa dibilang cukup terlambat, melihat rekan-rekan sejawat yang sudah gonti-ganti domisili dengan alasan studi maupun ikut suami (atau istri). Meskipun pernah melakukan perjalanan sendiri, tapi belum pernah sejauh dan seserius ini. Jika biasanya ada unsur rekreasi dan tak pernah lama, tidak untuk kali ini. Kuliah masih dengan beasiswa Yayasan Ayah Bunda terlalu sakral untuk dibuat lelucon. Perjalanan ini sebenarnya juga pilihan. Pilihan yang diberi kesempatan untuk dilaksanakan. Meskipun awalnya ragu, tapi Tuhan meyakinkan dengan memberi jalan.

Atmosfer Depok dan Jogja sangat berbeda. Butuh banyak energi untuk menggugah ‘nilai kenyamanan’ yang kadung ada di diri. Saya tidak sedang berusaha keluar dari zona nyaman. Saya memperluas zona nyaman. Menariknya dari kharisma UGM, dari wangi ‘Cappucino Mint’ dan segarnya ‘Blessing on You’ KeiKo, dari kesabaran, ramai, dan panasnya Sop Merah, dari persimpangan Pojok Beteng Wetan saat masih bisa bertanya ‘pulang lewat mana?’, dari riuh rendah 0 KM, dari biru Pok Tunggal, dari hangat Burjo Pak Cubung Stasiun Wates, dari lengangnya Malioboro saat gerimis di suatu pagi buta, dan dari harum sprei di kamar. Semuanya saya masukkan tas, dan saya bawa ke Depok. Seandainya bisa.

Membandingkan dua hal yang tidak setara memang bukan hal yang adil dan bijak. Seperti ketika mencoba membandingkan Jogja dengan Jakarta, Jabodetabek dengan Joglosemapur, UI dengan UGM. Jelas berbeda dan tidak bisa disetarakan. Masing-masing punya fungsi dan karakteristiknya-yang tak perlu saya jelaskan di sini. Kalaupun saya mencoba membandingkan, hasilnya akan sangat subyektif.

Hari-hari di sini berjalan lebih cepat. Mungkin karena saya lebih banyak mengalami gelap daripada terang. Tidur setelah subuh dan bangun tengah hari adalah rutinitas pada minggu-minggu awal. Kuliah malam mungkin bisa dikambinghitamkan, selain itu? Internet dan rasa ingin pulang. Keluar dari kos maksimal 2 kali sehari. Satu untuk membeli makan siang dan sore, dan yang satu untuk berangkat kuliah. Sisa waktunya digunakan di kos, entah duduk di depan laptop seharian atau tidur seharian. Oiya, bulan lalu saya sempat kecanduan tidur. Saya bisa tidur 12 jam sehari hanya demi mimpi. Bulan lalu mimpi saya tak jauh-jauh dari pulang. Stasiun, kereta api, detak rel, wangi sprei kamar, dan rumah selalu hadir dalam mimpi. Seolah saya bisa merencanakannya. Pada hari-hari itu, merencanakan pulang lewat mimpi itu jauh lebih mudah daripada mengagendakan untuk sesungguhnya pulang.

Saya kos di kawasan yang lumayan jauh dari tempat mahasiswa UI ataupun GunDar biasanya ngekos. Memang sengaja dipilih demi menghindari hiruk-pikuk yang biasanya terjadi di kawasan padat kosan. Nilai lebih itu harus dibayar dengan jalan kaki lebih jauh ketika ke kampus, beli makan, dan akses ke ‘kerumunan mahasiswa’. Setimbanglah. Selain itu, lokasi kos juga cukup hijau. Masih banyak pohon di sini -yang konon di tanam Pak Kos tahun 1980an-, sehingga sampai saat ini saya merasa belum perlu untuk membeli kipas angin. Meskipun kosan saya termasuk terpencil, tapi (sialnya) saya tidak bisa lari dari keriuhan lalu lintas.  Kosan saya sejajar dengan jalur kereta dan jalan raya. Dari kamar kos yang terletak di lantai 2, kemacetan bisa dengan mudah dilihat. Jadwalnya adalah pada hari kerja pukul 6:30 sampai pukul 7:00, atau pukul 16:00 – 21:00 setiap hari libur. Sementara itu kereta api melintas tiap 15 sampai 30 menit pada jam operasi KRL dan agak lebih longgar ketika bukan jam operasi KRL. Sepi dari riuh mahasiswa, tapi ramai dengan deru mesin dan benturan besi ketemu besi. Darah dibayar darah.

Jika harus diceritakan, ada beberapa hal menyebalkan di kosan ini. Masih terkait dengan lalu lintas tentunya. Knalpot bising adalah yang pertama. Klanson kereta api adalah yang nomor satu. Getaran akibat kereta yang lewat dengan membawa beban berat adalah yang paling menyebalkan. Sangat pernah sekali saya terbangun dari tidur karena tiga hal itu. Sekadar mengutuki diri sendiri kemudian terlelap lagi.

Sebagai seorang yang menjadi saksi hidup 5.9SR-nya Jogja, saya paling takut dengan hal ketiga. Air di gelas beriak, pijakan bergerak, dan ya rasanya seperti gempa. Awalnya saya masih kaget dan hampir berlari ke luar kamr, tapi semakin ke sini saya bisa niteni. Kereta api pembawa box kontainer adalah tersangkanya. Melintas di dekat kos antara jam 22:45 sampai 23:15. Biasanya akan klakson dulu. Tiga hal itu aku simpan dalam ingatan dan akan direcall ketika tiba-tiba kosan bergetar. Jika 3 syarat tadi tidak terpenuhi, berarti ada hal serius yang terjadi dan segera keluar dari kamar. Menurut saya Depok jauh lebih aman dari Jogja. Tidak berdekatan dengan garis pantai dan jauh dari gunung berapi dan patahan. Di Depok, saya lebih mudah mati tertabrak ketika membeli galon di Indomaret seberang jalan daripada karena tertimpa bangunan kos yang rubuh karena gempa.

Kereta baru saja lewat, isyarat semboyan 35 dibunyikan.

~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s