Jogja – Depok 101 (first-rain)

Sore ini Depok hujan. Hujan yang beneran hujan, bukan kremun seperti yang jatuh di awal bulan ini.

IMG_20141023_164644Seperti yang sudah-sudah, di mana-mana pasti hujan akan menciptakan keheningan sesaat yang kemudian diisi dengan romantisme dan melankolia kenangan. Jogja, dengan atau tanpa hujan, tiap sudut kota Jogja itu romantis (ini kata Pak Anies-dan saya sepakat). Apalagi ditambah hujan. Aura romantisnya semakin menguar, keluar dari sela-sela beton dan aspal. Menyatu dengan wangi hujan, terhirup, dan otak akan me-recall semua kenangan yang masih mungkin diingat. Manis. Di Depok rasa-rasanya begitu juga. Bedanya kesan romantisme dan melankolia itu baru ada di otak saya-yang masih terisi tentang Jogja-dan belum melekat pada Kota Depok itu sendiri. Mungkin saya harus membuat kenangan di sini. Segera.

Seperti yang sudah saya ceritakan di (1) dan (2) tentang lokasi kos saya, ada keunggulan tambahan ketika hujan. Di sini, bisa dilihat di foto di atas, masih banyak tanah. Ibu kandung wangi hujan. Jadi ketika hujan turun, sang ibu akan melepas bebauan segar dan wangi itu. Hmm, saya beruntung bisa menghirup baunya di sini, di antara aspal dan beton apartemen. Selain itu, kombinasi lain antara hujan dan dedaunan cukup bisa meredam suara mesin-mesin tak kenal lelah yang lalu lalang. Hmm, nampaknya saya akan memperpanjang kontrak kos-kosan ini sampai Desember.

Dulu, saya memandang Ibu Kota dan sekitarnya itu sebagai kota-kota yang rapuh. Hujan sedikit lalu banjir, sungai meluap, macet, dan ketidakromantisan yang lain. Nampaknya hal ini sudah merambah di Jogja. Dua-tiga tahun terakir, musim penghujan di Jogja memang agak kurang bersahabat. Yang paling sering dikeluhkan adalah genangan air. Misalnya di MM UGM, Jakal atas, Ringroad Utara, dan Jalan Colombo. Anda akan melihat ini sebagai hal yang ‘lucu’ ketika Anda melihatnya melalui twitter @JogjaUpdate dalam keadaan kering, di kamar, ditemani secangkir minuman hangat dan lagu kesayangan. Tapi kalau Anda yang terjebak dalam lalu lintas, hujan, genangan-dan kenangan tentang mantan-Anda masih bisa tersenyum tapi satir.

Di sini, hawa romantisme saat hujan juga terkikis. Sore tadi hujan turun kira-kira jam 17:00, lebat, langitnya pun gelap. Melihat tanda alam yang sebegitu meyakinkan, saya tidak yakin bahwa hujan akan berhenti segera. Keadaan saya yang belum punya payung, yang harus jalan kaki ke kampus, dan yang harus UTS membuat romantisme itu luntur. Kemudian hal terbaik yang bisa dilakukan untuk menikmati hujan-yang datang tiba-tiba-adalah rebahan. Berharap suasana heningnya bisa membantu saya merecall ingatan tentang materi Administrasi Bisnis.

Mungkin Tuhan tahu kalau saya sedang tidak fit, jadi hujan dihentikan 45 menit kemudian. Saya diijinkan berangkat ke kampus bersama tetes-tetes hujan dari dedaunan, sisa-sisa harum wangi hujan, genangan-genangan becek di sepanjang Gang Sawo menuju Stasiun UI, pulangnya karyawan kantor dengan beberapa bagian baju yang basah.

Semoga hujan turun lagi dan saya sudah membeli satu payung dari puluhan pilihan yang ada di toko di belakang Stasiun UI. Sepertinya lebih mudah untuk memilih berhujan-hujanan daripada memilih satu dari puluhan corak payung yang umm.. menurut saya lucu-lucu.

Bagaimana ceritamu di awal penghujan ini?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s