Kopi, Kafe, dan Kreativitas

Oke, karena draf tulisan ini hilang karena sebuah kecerobahan yang tidak perlu, saya terpaksa mengulang dari awal.


Sabtu malam lalu karena stuck dan bosan dengan twitter, saya membuka soundrown (www.soundrown.com). Sebuah laman web yang dulu awalnya saya dapat dari sebuah thread di kaskus yang kemudian saya tambahkan di bookmarks. Soundrown adalah laman web yang menyediakan bebunyian dan kebisingan yang bisa membuat saya (dan Anda) lebih rileks dan sejenak ‘kabur’ dari lingkup 14 inch ukuran layar laptop. Soundrown menyediakan beragam soundscape atau suara latar belakang yang biasanya ada di sekitar; misalnya suara ombak, hujan, burung dan sebagainya.

Sebelumnya, saya juga pernah membahas tentang bebunyian dan kebisingan di sini. Sebuah post yang diambil dari makalah yang saya untuk mata pelajaran IPA yang rasa-rasanya sudah jutaan tahun yang lalu. Selain itu mungkin sudah jamak diketahui dan dirasakan oleh banyak orang bahwa bebunyian tertentu bisa memberikan efek tertentu bagi para pendengarnya.

Nah, kembali lagi ke Soundrown. Namanya juga iseng, tak sengajalah buka menu aboutnya lalu menemukan link ini

Study of the Day: Why Crowded Coffee Shops Fire Up Your Creativity

Link tersebut merujuk pada halaman surat kabar The Atlantic yang memuat berita bahwa ada studi yang menyatakan bahwa suasana dan kebisingan yang ada di kafe itu bisa merangsang otak untuk berpikir lebih kreatif. Penelitian yang dirujuk dalam harian tersebut dimuat dalam Journal of Consumer Research dengan judul

Is Noise Always Bad? Exploring the Effects of Ambient Noise on Creative Cognition

link ini

Kemudian, hal ini saya akan kaitkan dengan kicauan dari beberapa akun penikmat kopi dan kafe yang menyayangkan ketika ada pelanggan kafe yang memakai tempat itu sebagai tempat mengerjakan proyek ataupun tugas akhir. Berbekal laptop dan fasilitas wifi, kafe merupakan tempat pelarian yang cocok untuk mendapat penyegaran. Saya bisa berbicara seperti ini karena dulu saya sempat mengalami. Jadi kalau menurut saya, mau berapa saja di kafe itu hak masing-masing pelanggan, toh saya yakin mereka juga bertransaksi di sana–beli produk seharga 9000, lalu wifi-an sampai jam 3 pagi–. Tapi apa salahnya? Kadang yang menggunakan kafe sebagai tempat nongkrong dan bersosialisasipun melakukan hal yang sama.🙂

Sedikit saya bercerita. Dulu saat mengerjakan tugas akhir, hampir sebulan sekali pasti ke kafe. Ngopi. Entah itu sendiri ataupun bersama rekan-rekan seperjuangan. Biasanya kami ngopi di jaringan KedaiKopi, dan paling sering di KedaiKopi Gejayan *promosi gratis*. Agendanya? Sekadar ngobrol sama teman, tukar pikiran, solusi, dan ide, dan yang paling penting saat itu adalah momen saling menguatkan antar teman yang sedang mengerjakan tugas akhir. Kami datang jam 9 malam, pulang pas barista KeiKo (akronim dari KedaiKopi) sudah mulai menata meja dan kursi tanda kafe mau tutup.

Yang kemudian menjadi masalah adalah ukuran efektivitas yang didapat ketika melakoni proses kreatif di kafe. Jika menggunakan parameter tugas akhir, seharusnya ada korelasi positif antara intensitas mengerjakan tugas akhir dan ngopi di kafe dengan intensitas bertemu dengan dosen pembimbing. Selain itu ada lagi masalah finansial. Jelas jika lebih sering mengunjungi kafe maka lebih banyak uang yang akan dikeluarkan, minimal untuk secangkir minuman yang paling murah. Nah, apakah hasil yang didapat ketika misalnya mengerjakan proyek di kafe itu bisa menutup kebutuhan untuk ngopi? Saya pribadi sebagai programmer partikelir bin abalers merasa agak berat melakukan hitung-hitungan ini. Karena input hasil buruh coding serabutan kadang tidak bisa menutup biaya ngerjain project di kafe. Apalagi kadang harus karena terpaksa mengajak pacar untuk ikut ngopi. Hmm..

Solusinya adalah website macam soundrown ini.

Jadi karena pergi ke kafe itu memakan banyak biaya, makan dibuat agar kafe itu hadir di kamar. Cukup soundscape-nya saja, tidak perlu sampai bawa-bawa mesin grinder, mesin roasting, mesin espresso, apa lagi sama baristanya. Itu benar-benar tidak perlu. Kopinya kopi yang seadanya saja, instants sachet boleh, kopi bubuk hasil grinder kafe juga boleh. Semampunya, karena di sini tujuannya adalah pengiritan. Lalu untuk sounscape-nya bisa menggunakan soundrownrainycafe, atau bisa cari di soundcloud, google, ata youtube dengan keyword coffeeshop, cafe sound, etc. Selanjutnya adalah gunakan bohlam kuning atau lampu pijar yang kekuningan, tujuannya gar matanya lebih nyaman. Terakhir adalah headphone, earphone, atau headset (tapi lebih enak pakai headphone, taiak menakiti lubang telinga). Ketiganya bisa digunakan untuk mendengarkan soundscape-nya serta mengurangi noise dari luar. Semua elemen lengkap, tinggal posisikan diri dan siap untuk mengerjakan tugas di kamar dengan suasana kafe.

Sebenarnya banyak pilihan soundscape. Favorit saya adalah rainymood. Soundscape hujan dengan durasi 30 menit yang sering menjadi teman tidur. Di soundrown sendiri juga banyak kok pilihannya. Tergantung suasana hati Anda.

Untuk pengguna Android saya punya satu rekomendasi aplikasi soundscape, namanya Relax Melodies.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s