Gallery

Karena Tawamu Adalah Puisi Bagiku

LINIMASA

Tidurlah kursi, tidurlah di atas ombak 

di samping nyenyak dan gelisah yang tak tampak

(Abdul Hadi. W. M)

Tak ada sesuatu kecuali puisi. Ini kata Heidegger. Lanjutnya, puisi adalah mata air dari landasan bahasa, seni, sejarah, Ada, dan kebenaran. Ia meletakkan dasar, membangun, menempatkan, dan memberi nama. Ia dirikan eksistensi. Puisi mencipta renungan.

Kapan kita berpuisi? Saat jiwa kita tersentuh. Saat sedih, jatuh cinta, senang, gelisah, gembira, bahagia, dan duka. Sulit sekali rasanya ketika sibuk di ruang kuliah, konsentrasi pada satu mata pelajaran dan mendengarkan dosen ngecuprus lalu kita berpuisi. Atau saat kita naik ojek di antara dua kaca spion mobil, dengan hati was-was. Sulit.

Pokoknya sulit.

Berpuisi di jaman pragmatis juga dilakukan saat kita tak banyak memiliki ajimat universal: uang. Ingat betul, saat saya, zaman dulu, mendekati seorang puan jelita dengan tanpa modal ajimat universal, rambut gondrong ndak jelas, dan roda dua. Hadapi saingan penuh glamor dimana-mana: empat roda…

View original post 691 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s