Kado Natal Terindah

LINIMASA

Aku sigap menutup mulutku dengan kedua tangan sebelum jeritan bahagia sempat keluar. Jantungku berdegup keras sekali. 12 Desember 2014. Aku tidak akan pernah lupa hari ini. Natal memang masih dua minggu lagi, tapi buatku, inilah kado paling indah.

Sarah, anakku, berdiri memegangi pinggiran tempat tidurnya. Mencoba berjalan, sambil terhuyung-huyung, selangkah-demi selangkah.
Ini yang pertama kali!
Ia tersenyum lebar sekali. Aku diselimuti bangga campur haru. Campur aduk. Akh… Seandainya Adam ada di sini, ia pasti sama histerisnya denganku. Dulu, suamiku itu pernah bilang, dia ingin bisa menyaksikan momen-momen pertama anak kami bersamaku. Sesibuk apapun akan ia sempatkan.

Air mataku jatuh berhamburan. Memang, manusia bisa berencana sebanyak-banyaknya, tapi kalau kematian dan Sang Empunya hidup sudah memutuskan, kita bisa apa? Ulu hatiku masih ngilu mengingat hari-hari terakhir aku melihat Adam. Pasrah memang satu-satunya jalan. Tidak hanya ikhlas merelakan, tapi juga berserah.

Sarah masih terus ngotot mencoba berjalan walau tertatih. Tangannya memegangi ujung meja…

View original post 150 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s