Perihal Takaran Seduh, Sudah

Saya itu sebenarnya paling ndak bisa kalau disuruh ‘nakar’. Ngukur dengan patokan sendok teh atau sendok makan merupakan hal yang menurut saya membingungkan. Satu sendok teh itu yang seberapa? Tingginya seberapa? Kan pasti beda ukuran kalau tinggi yang ada di sendok itu beda. Rancu to? Tapi anehnya, ibuk-ibuk kok ya pada bisa menghasilkan masakan yang enak walaupun takarannya rancu kaya gitu? Atau jangan-jangan, ukuran satu sendok teh atau satu sendok makan itu sudah ada standarnya dan sudah disosialisasikan melalui rapat PKK bulanan?

Efek langsung dari ketidakmampuan saya dalam menakar ini adalah saya ndak bisa bikin kopi atau teh yang rasanya konsisten. Nek ndak terlalu manis pasti kurang manis. Apalagi kalau kopi atau tehnya itu bentuknya curah, harus ditakar juga. Makin njlimet urusannya. Kalau takaran gula, setelah diseduh bisa dicicip dulu. Kurang manis bisa ditambah gula, kalau terlalu manis coba ndak sambil liat saya ya disyukuri. Tapi beda perkara kalau takaran kopi atau teh. Sekali seduh ya sudah.

Konon, teh yang nikmat itu yang nasgitel. Panas, legi, kentel. Panas, manis, kental. Khas seperti yang ada di warung bakmi jawa atau angkringan. Kata ibuk saya, kalau mau nyeduh teh untuk sekeluarga–empat orang–cukup dengan dua jumput teh. Sungguh, sakjumput – dua jumput ini lebih susah diukur daripada satu sendok teh. Buktinya, setiap menyeduh teh di rumah, selalu terlalu kental untuk ukuran ibuk dan bapak. Di kosan saya ndak mau ribet seperti itu. Walaupun rasanya kalah jauh dengan teh curah yang bisa nasgitel tadi, saya pilih teh celup. Ya itung-itung sebagai tabungan kangen pada teh nasgitel.

Kalau kopi saya lebih ndak bisa ngukur. Saya akui kemampuan lidah saya dalam mengecap citarasa kopi itu masih terbatas. Di rumah itu ndak ada yang suka kopi. Saya pun baru mulai minum kopi sejak awal-awal kuliah karena kebutuhan untuk ngobrol di Kedai Kopi atau ngerjain tugas. Jadi ya saya nyebutnya sebagai katalis untuk mengeluarkan uneg-uneg atau inspirasi. Bukan teman begadang, wong saya itu ngopi ndak ngopi yo tetep tepar. Berhubung sering ada kegiatan ngopi ini jadi saya sedikit tau tentang citarasa kopi. Walaupun begitu, saya di kos adalah seorang instant coffee holic *halah. Intinya lebih suka kopi sachet. Apalagi produk kopi sachet yang sudah ada krimer dan gulanya. Tinggal seduh, sudah.

Lhoh, bukannya saya ndak suka kopi yang beneran kopi. Tapi sejujurnya saya ndak bisa ‘nakar’ kopinya. Pernah saya coba menyeduh kopi bubuk arabika lampung, jadinya kecut. Lain waktu saya coba yang robusta, jadinya sangat pahit dan karena teksturnya yang kasar saja malah jadi semacam minum ampas kopi. Oleh sebab itulah saya jadi penggemar Nescafe Rich n Strong dan Goodday.

Baru-baru ini saya diece karena perihal di atas. Katanya ndak idealis kalau minum kopi sachetan. Kurang fanatik. Argumen saya, justru dengan ngopi sachet ini biar saya ndak melakukan hal yang mubazir je. Kalo saya beli kopi bubuk, terus diseduh dan jadinya ndak enak kan sia-sia. Tapi ya namanya omongan sama teman, saya merasa tertantang dan akhirnya saya beli kopi bubuk lagi.

Hasilnya? Tetap saja, sampai hari ini, saat 100gr kopi bubuk sudah hampir habis, saya masih kurang bisa menyeduh kopi dengan takaran yang pas. Walaupun saya yakin, kopi bubuk yang saya beli itu berkualitas dan akan nikmat jika diseduh dengan takaran dan cara yang tepat.

Apa yo saya harus ikut rapat PKK biar tau takaran kopi yang pas untuk suami? ndak lucu, saya ndak mau punya suami.

Apa boleh dikata, mungkin sebaiknya nikmati dulu seduhan kopi mandiri dengan rasa yang warna-warni dan tidak pasti. Sambil mencari, mencari penyeduh kopi terbaik bagi hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s