Berbahasa Indonesia

LINIMASA

Saya percaya, tak perlulah kita menjadi seorang penulis atau penyunting terlebih dahulu, untuk bisa mengenali kesalahan penulisan, pemborosan kata, maupun ketidakjelasan penyampaian. Sudah semestinya, pengalaman dan pembelajaran bahasa Indonesia yang tak terputus selama 12 tahun lebih, menjadi modal dasar yang cukup untuk mau berbahasa dengan baik dan benar. Setidaknya secara tertulis, agar bab-bab awal skripsi tidak dihujani coretan revisi, dan tidak mengulangi kesalahan sama di sesi-sesi konsultasi berikutnya. Kalaupun tidak kuliah, setidaknya mampu menulis surat lamaran kerja dengan penuh percaya diri.

Sumber: flickr.com

Kata kuncinya ada pada konsistensi dan keteraturan.

Bagi sebagian orang, keteraturan memang membosankan, menancapkan batasan, layaknya sebuah kerangkeng yang menghambat pergerakan. Namun bagi sebagian lainnya–terlebih yang bergelut dengan Obsessive Compulsive Disorder (OCD) linguistik dan visual–keteraturan merupakan sebuah candu, pemberi ketenteraman, sebuah isyarat bahwa semua sedang baik-baik saja. Harap diingat, ini hanya berbicara mengenai tulisan. Media penyampaian bahasa yang kasat mata. Bukan seni sastra, yang pemaknaannya lebih dalam…

View original post 596 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s