Demam Panggung

LINIMASA

Jadi, Ibu punya anekdot yang sampai sekarang masih suka diceritakan kalau beliau sedang ingin mempermalukan saya. Waktu umur saya kurang lebih 6 tahun, Ibu meminta tolong mengantarkan barang ke tetangga sebelah rumah. Pada jaman itu pagar rumah masih rendah, jadi sebenarnya kalau beliau mau, barang yang diantarkan itu bisa dilemparkan saja ke sebelah, tapi atas nama kesopanan, dan karena beliau baru melahirkan anak kedua, saya yang diutus untuk pergi. “Ada bel kok di pagarnya, kalau tidak ada orang pencet saja” katanya. Setelah berjalan ke rumah sebelah, saya berdiri di depan pagarnya, tanpa berani memencet belnya. Mungkin mengharapkan keajaiban bahwa aura saya akan terasa sang tetangga sehingga dia melongok ke luar. Tetapi tidak, jadi saya balik lagi ke rumah, gagal mengantarkan. Ibu heran dan bertanya, apakah bel sudah dibunyikan dan tidak ada yang keluar? Saya jawab, aku tidak berani membunyikan belnya karena takut mengganggu. Ibu mengeluarkan suara yang bisa jadi mengekspresikan…

View original post 409 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s