Homo Homini Celaterus*

LINIMASA

Suka tidak suka, mau tidak mau, saat ini kita hidup di dunia yang serba salah, dengan aturan main tunggal: mencela atau dicela. Begini salah, begitu juga salah, sehingga selalu ada celah untuk dicela, terlepas dari persoalan benar atau salah.

Tidak ada seorang pun yang bisa merdeka dari urusan yang satu ini. Bedanya hanya di posisi. Hari ini mencela, besok malah dicela. Begitu seterusnya baik disadari atau tidak sengaja. Lantaran selalu ada celaan sejak seseorang dilahirkan sampai akhirnya berpulang. Bahkan dalam kasus-kasus tertentu, celaan sudah dimuntahkan ketika kehadiran sang jabang bayi sedang diusahakan.

Soal efek tinggal pilih, ingin merasakan kepuasan semu dengan sukses mencela orang lain, merasa sangat terganggu dengan celaan orang lain, atau berhasil cuek dan terus menjalani hidup tanpa peduli omongan orang lain.

Mengapa seseorang mencela orang lain? Entahlah. Dalamnya lautan bisa diukur, hati orang siapa yang tahu. Tapi, kalau ingin menduga-duga, setidaknya ada beberapa hal yang mampu mendorong…

View original post 518 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s