Maria dan Fatima

LINIMASA

“Pesawatku mendarat jam 17.55” kata Fatima di telepon untuk Maria di seberang pulau. Mereka sudah terpisah sejak Sekolah Dasar di sebuah desa di Jawa Tengah. Tak hanya satu sekolah mereka pun bertetangga. Hampir tidak ada sore dilalui tanpa bermain bersama. Walau masing-masing memiliki hobi yang berbeda. Maria lebih suka main masak-masakan dan penganten-pengantenan, sementara Fatima lebih suka panjat pohon dan main gundu.

Perbedaan ini rupanya malah semakin mengeratkan persahabatan mereka. Dunia adalah keluasan tanpa tepi bagi kedua bocah ini. Tak ada sudut desa yang belum pernah kena jejak kaki kecil mereka. Senja di desa itu sepi seperti kuburan kalau Maria dan Fatima berlibur keluar desa. Atau saat ujian kenaikan kelas tiba. Membuat banyak penduduk desa merasa kehilangan. Sampai-sampai orang tua mereka masing-masing diinterogasi tetangga tentang keberadaan dua anak itu kalau senyap beberapa hari. “Ke mana anak-anak? Sepi bener udah lama?”

Seperti Metro Mini, hanya Tuhan yang bisa menebak jalan hidup. Selepas SD…

View original post 509 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s