Sepuluh Tahun yang Lalu

LINIMASA

Dia pernah berpikir kalau dia tidak percaya takdir. Manusia akan menjadi apapun yang mereka ingin jadi, belanya. Tapi hari ini dia tidak begitu yakin. Bangun pagi, minum kopi, berangkat kerja, makan siang, pulang ke rumah, istirahat Cuma jadi rutinitas yang dilakukan tanpa arti. Cuma badannya yang di tempat. Dia sedang terbang. Jauh. Ke depan. Ke belakang. Ke semua persimpangan jalan yang sudah dilaluinya. Ke pilihan-pilihan yang sudah dibuatnya. Yang akhirnya membawanya ke tempat ini. Keadaan ini. Umur 30.

“Ingatlah kalau takdir setiap manusia sudah ditentukan oleh Tuhan,” samar-samar dia ingat guru ngajinya pernah berkata,”Manusia boleh berusaha, tapi akhirnya Tuhan juga yang menentukan.” Dia ingat kalau dia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh sang guru. Dia masih terlalu muda. Dia waktu itu belum membuat pilihan sendiri. Orangtuanya yang setiap hari menentukan dia harus berbuat apa dengan cara bagaimana. Ternyata hal itu walau tidak memerdekakan, tapi cukup nyaman.

Pernyataan guru…

View original post 576 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s