Turun Salju di Jakarta

LINIMASA

Siang ini entah kenapa terasa begitu dingin, bersaljukah Jakarta tercinta? Dalam setiap kesempatan aku mendamba turunnya salju di kota metropolitan, semua jadi putih. Sudirman putih. Senayan putih. Tanah Abang putih, rumahku putih. Dan bisa kukenakan kacamata salju pemberian kawanku ini di Jakarta, dan bisa kukenakan mantel bulu cantik ini di Jakarta.

Kupandangi sekali lagi kaca jendela. Semua masih sama saja. Jakarta tetap dalam multiwarna. Hanya hujan turun begitu derasnya. Terjebak di dalam rumah. Hujan ini tidak memberikan sela sedikitpun untuk melempar pandang jauh kedepan, bagaimana aku bisa berjalan? Aku mau keluar.

Baiklah! aku bukan manusia kalah. Kacamata ini kupakai, mantel ini, sarung tangan, dan sepatu boot; semua kukenakan seperti musim salju di bumi belahan utara. Kupantulkan diriku di depan cermin, ya tuhan! seperti beruang madu berambut keriting dan buta.

Tuhan lihatlah! Kau pasti terkecoh. Kubuat ini diluar jalur aturanmu, dan kau tak bisa memahamiku. Kau turunkan hujan, badai, banjir sekalipun…

View original post 387 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s