Istri

LINIMASA

Terkadang aku merasa membutuhkan istri. Belanja akhir pekan yang kadang terlewat tidak terjadi, sering harus menunggu akhir pekan berikutnya lagi. Coba kalau aku punya istri yang waktunya lebih fleksibel, pasti dia akan membantu berbelanja tanpa harus menunggu.

Terkadang aku merasa membutuhkan istri. Apalagi untuk mengakarkan hubungan erat dengan ibu-ibunya teman sekelas anakku. Karena aku sadar, aku tak pandai berbasa-basi, dan aku sering merasa kikuk di grup itu, tidak jarang bingung harus bicara apa dan menanggapi dengan bagaimana.

Terkadang aku merasa membutuhkan istri. Tidak keberatan beres-beres, tapi aku paling tidak suka pulang ke rumah yang berantakan. Apalagi kerusakan-kerusakan yang baru ketahuan jika ditanya. Terkadang adikku yang tinggal serumah sering mengidentifikasi masalah (seperti baru-baru ini menyuarakan kekhawatiran kalau di atas pondok cuci ada tikus, dan dia sangat khawatir kalau ketika para asisten pulang kampung dan kami sedang mencuci lalu bertatap muka dengan salah satu atau salah dua binatang pengerat tersebut), kemudian kami…

View original post 393 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s