Kita Sampai Di Sini

LINIMASA

Yang namanya putus cinta, nggak pernah ada yang nggak bikin sakit hati.

Meskipun kita bisa atau paling nggak pernah ngomong “kami putus baik-baik”, pada awalnya tidak ada yang baik-baik. Pasti pernah sedih. Pasti pernah menangis. Pasti pernah merasa sendiri.

Meskipun Adele atau Sam Smith bisa jadi kaya raya dan meraih banyak Grammy Awards atas lagu-lagu yang dibuat karena patah hati, ada proses panjang yang dijalani. Sebelum lagu-lagu mereka bahkan selesai ditulis, baik Adele atau Sam Smith juga pernah guling-gulingan gak jelas di kasur sendirian di akhir pekan dengan mata sembab.
Sama dengan yang dilakukan milyaran orang lain di belahan dunia mana pun, baik itu mbak Ngatinem di desa Watugong, ato nona Marimar di Caracas.
Yang satu mungkin diputusin pacarnya sebelum bulan puasa. Jadinya lebih milih nyuci piring di dapur pas Lebaran, biar gak ditanyain “pacarnya mana? Kapan kawin?” sama keluarga besar waktu selesai sungkeman.
Yang satu lagi mungkin putus beberapa…

View original post 655 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s