Meeting

image

Saya kurang bisa memahami kenapa atasan-atasan suka sekali meeting. Jujur saja, saya sangat keberatan jika harus ikut meeting. Sebenarnya ini ironi, karena hal-hal yang telah, sedang, dan akan saya lakukan merupakan hasil dan simpulan dari berbagai meeting yang telah dilakukan. Dan bisa jadi ketika saya ikutan meeting, saya sebenarnya sedang menentukan apa yang akan saya lakukan–atau hal yang lebih lebay besar lagi adalah saya ikut menentukan masa depan saya.

Tapi ya, saya tetap tidak suka meeting, selayaknya kamu tidak suka menunggu. Wajar, walaupun meeting dan menunggu kadang sama-sama diperlukan-dan sama-sama membosankan.

Saya selalu mengungkapkan alasan saya sebagai sebuah penolakan ketika diajak meeting oleh atasan. Sejauh ini berhasil, walaupun alasannya masih berkutat pada ‘masih ada kelas’, ‘sedang ada deadline‘, ‘nanti saya ngobrol sama PM saja’, ‘saya belum move on’, dan hal-hal lain yang sejenis.

Dari sekian banyak meeting yang saya hindari, meeting dengan sesama orang IT adalah meeting yang paling saya hindari. Basi, obrolannya itu-itu saja, dan isinya cuma kopi dan gorengan. Ndak perlu meeting, di kantor sendiri juga sudah ada. Malah lebih mending ngobrol sama PM, langsung ke intisari: do and don’t, dan jika beruntung bisa sambil ngopi di sevel atau starbak.

Mungkin, karena pola penolakan dan perangai saya, atasan-atasan sudah mulai paham dan mengerti. Dan mulai menerapkan cara baru agar saya bisa ikut meeting.

Hari ini ada email. Saya suntingkan intinya:

‘Besok ikut meeting ya, di *sebutlah nama kafe beserta lokasinya di bilangan Jakarta Selatan* bareng gw & Bu Bos. Lo ke kantor dulu, kita berangkat bareng, jam 9 ye, antisipasi macet.
Ntar banyak ngomongin teknis, terlampir ada bahan diskusi. Mereka ini bukan orang IT, jadi lo jangan ngelantur pas ngomong. Santai aja, ini baru pilot project, Ok?

ps. TL mereka cewek, menurut gw sih lo banget. *wink*’

Demikianlah.
Mirip ajakan MLM ya? Memang.

Ya harus diakui bahwa apa yang diemailkan oleh atasan saya ini benar. Persona dari TL ini memang ‘gw banget’. Komplit.
Masih muda, muslimah, periang, seorang project manager yang cakap–apasih yang paling dibutuhkan developer selain project manager?–, hobinya baca dan agak nerd.
Plus sudah punya anak satu. Sudah nikah dua tahun, punya bayi cowok lucu umur 6 bulan–jika saya tidak salah ingat–yang kemarin ikut diajak meeting.

Ya karena saking komplitnya.

Apakah saya harus ikut meeting lagi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s