Tentang SPG Rokok

Kecerdasan seseorang bisa diukur dari kualitas dan bahan candaannya.

Menjawab ‘saya ndak merokok mbak, biasanya dirokok’ pada seorang SPG yang bertanya ‘Masnya merokok?’ tentu bukan sebuah becandaan yang berkualitas, bahkan bukan juga sebuah becandaan–semoga jawabannya serius ya mas, aku ngiri lho sama sampeyan.–Kalaupun itu sebuah becandaan, ya itu termasuk ‘pathetic jokes’.

Apa sih susahnya ngomong, ‘maaf mbak, saya ndak ngerokok *ttkhbs*’. Lebih cepet dan lebih hemat kata kan? Urusan promosi juga akan selesai saat itu juga. Ditutup dengan ucapan terima kasih dan senyum yang lembut dari SPGnya.

Situ pikir jadi SPG itu gampang?
Jalan pake heels keliling mall, make up tebel yang super gerah, dapat stigma negatif dari Google dan masyarakat, dan masih harus berhadapan dengan situ yang mulutnya perlu dibordir. Gimana, itu risiko pekerjaan? Oke, tapi mbok ya diringankan.

Kalau masnya dengan hal beginian aja ndak paham, ya saya rasa masnya belum cukup ilmu untuk paham revolusi mental–walaupun implementasinya sampai sekarang masih perlu dipertanyakan.


Dalam beberapa hal, menurut saya, perokok punya kelebihan daripada yang tidak merokok. Misalnya, mereka lebih bisa sopan dengan SPG rokok.

*ttkhbs : titik habis, adalah kode akhir atau penghabisan sebuah pesan telegram.

*sebenarnya mau menyisipkan foto SPG, tapi kok kelihatan mukanya, jadi ndak usah aja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s