Tentang SPG Rokok

Kecerdasan seseorang bisa diukur dari kualitas dan bahan candaannya.

Menjawab ‘saya ndak merokok mbak, biasanya dirokok’ pada seorang SPG yang bertanya ‘Masnya merokok?’ tentu bukan sebuah becandaan yang berkualitas, bahkan bukan juga sebuah becandaan–semoga jawabannya serius ya mas, aku ngiri lho sama sampeyan.–Kalaupun itu sebuah becandaan, ya itu termasuk ‘pathetic jokes’.

Apa sih susahnya ngomong, ‘maaf mbak, saya ndak ngerokok *ttkhbs*’. Lebih cepet dan lebih hemat kata kan? Urusan promosi juga akan selesai saat itu juga. Ditutup dengan ucapan terima kasih dan senyum yang lembut dari SPGnya.

Situ pikir jadi SPG itu gampang?
Jalan pake heels keliling mall, make up tebel yang super gerah, dapat stigma negatif dari Google dan masyarakat, dan masih harus berhadapan dengan situ yang mulutnya perlu dibordir. Gimana, itu risiko pekerjaan? Oke, tapi mbok ya diringankan.

Kalau masnya dengan hal beginian aja ndak paham, ya saya rasa masnya belum cukup ilmu untuk paham revolusi mental–walaupun implementasinya sampai sekarang masih perlu dipertanyakan.


Dalam beberapa hal, menurut saya, perokok punya kelebihan daripada yang tidak merokok. Misalnya, mereka lebih bisa sopan dengan SPG rokok.

*ttkhbs : titik habis, adalah kode akhir atau penghabisan sebuah pesan telegram.

*sebenarnya mau menyisipkan foto SPG, tapi kok kelihatan mukanya, jadi ndak usah aja.

Advertisements

Tentang Senja dan Es Pisang Ijo

*coba diplay dulu*

Yang aku dengar dari linimasa, kamu bertolak ke Ujung Pandang pagi tadi, benarkah? Apa ini juga bagian dari studimu, setelah sebelumnya kamu secara tiba-tiba berada di Hong Kong?
Tidak, aku tidak mengirim pesan ini untuk mendapat kata pamit darimu. Aku hanya ingin berbagi tentang dua hal saja…

Satu.
Konon, tempat terbaik untuk melihat senja di pulau itu ada di Pantai Losari. Menurut peta, itu tidak jauh dari pusat kota Ujung Pandang. Jika sempat, mampirlah. Aku tahu kamu adalah gadis yang mudah takjub pada ciptaan Tuhan. Menurut salah seorang penulis di sana, bulan Oktober menjanjikan senja terbaik sepanjang tahun. Coba nikmatilah. Agar nanti saat kita bertemu, bisa kutatap lekat-lekat matamu dan melihat ronanya dari sana.

Kedua.
Aku suka sekali es pisang ijo. Selama ini aku hanya mencicipinya sebagai kuliner akulturasi rasa. Mudahnya adalah, aku pengen mencoba menikmati es pisang ijo langsung dari Ujung Pandang. Apa kamu keberatan jika aku minta itu sebagai oleh-oleh darimu? Aku rasa iya, maka aku hanya meminta kamu untuk mencicipinya, lalu merangkai kata yang tepat untuk menceritakannya padaku. Kamu tak suka bercerita? Baik, akan kusesap rasa itu langsung dari bibirmu. Tapi, nampaknya akan sulit rasanya membedakan keduanya.

Salam.
Hati-hati di jalan.

Menikmati Akhir Pekan

Apa yang lebih buruk daripada kekalahan tim sepakbola idola?

image

Pemandangan ini membuat saya mengingat satu dari segunggum sajak Aan Mansyur–yang bukunya masih dipinjam Haris dan belum juga dikembalikan.

Dalam sajak tersebut tertulis:

Aku senang berada di antara orang-orang patah hati. Mereka tidak banyak bicara, jujur, dan berbahaya. Mereka tahu apa yang mereka cari. Mereka tahu dari diri mereka ada yang telah dicuri.

Mungkin lain kali saya akan duduk di smoking room saja. Atau diam di kamar kos menonton film-film Tom Hanks. Atau menemui Haris untuk mendapatkan cerita patah hatinya lagi.

Meeting

image

Saya kurang bisa memahami kenapa atasan-atasan suka sekali meeting. Jujur saja, saya sangat keberatan jika harus ikut meeting. Sebenarnya ini ironi, karena hal-hal yang telah, sedang, dan akan saya lakukan merupakan hasil dan simpulan dari berbagai meeting yang telah dilakukan. Dan bisa jadi ketika saya ikutan meeting, saya sebenarnya sedang menentukan apa yang akan saya lakukan–atau hal yang lebih lebay besar lagi adalah saya ikut menentukan masa depan saya.

Tapi ya, saya tetap tidak suka meeting, selayaknya kamu tidak suka menunggu. Wajar, walaupun meeting dan menunggu kadang sama-sama diperlukan-dan sama-sama membosankan.

Saya selalu mengungkapkan alasan saya sebagai sebuah penolakan ketika diajak meeting oleh atasan. Sejauh ini berhasil, walaupun alasannya masih berkutat pada ‘masih ada kelas’, ‘sedang ada deadline‘, ‘nanti saya ngobrol sama PM saja’, ‘saya belum move on’, dan hal-hal lain yang sejenis.

Dari sekian banyak meeting yang saya hindari, meeting dengan sesama orang IT adalah meeting yang paling saya hindari. Basi, obrolannya itu-itu saja, dan isinya cuma kopi dan gorengan. Ndak perlu meeting, di kantor sendiri juga sudah ada. Malah lebih mending ngobrol sama PM, langsung ke intisari: do and don’t, dan jika beruntung bisa sambil ngopi di sevel atau starbak.

Mungkin, karena pola penolakan dan perangai saya, atasan-atasan sudah mulai paham dan mengerti. Dan mulai menerapkan cara baru agar saya bisa ikut meeting.

Hari ini ada email. Saya suntingkan intinya:

‘Besok ikut meeting ya, di *sebutlah nama kafe beserta lokasinya di bilangan Jakarta Selatan* bareng gw & Bu Bos. Lo ke kantor dulu, kita berangkat bareng, jam 9 ye, antisipasi macet.
Ntar banyak ngomongin teknis, terlampir ada bahan diskusi. Mereka ini bukan orang IT, jadi lo jangan ngelantur pas ngomong. Santai aja, ini baru pilot project, Ok?

ps. TL mereka cewek, menurut gw sih lo banget. *wink*’

Demikianlah.
Mirip ajakan MLM ya? Memang.

Ya harus diakui bahwa apa yang diemailkan oleh atasan saya ini benar. Persona dari TL ini memang ‘gw banget’. Komplit.
Masih muda, muslimah, periang, seorang project manager yang cakap–apasih yang paling dibutuhkan developer selain project manager?–, hobinya baca dan agak nerd.
Plus sudah punya anak satu. Sudah nikah dua tahun, punya bayi cowok lucu umur 6 bulan–jika saya tidak salah ingat–yang kemarin ikut diajak meeting.

Ya karena saking komplitnya.

Apakah saya harus ikut meeting lagi?

Jogja: Kanan – Kiri

image

Di sini, di Ibukota, saya sering bingung kalau ditanya kanan atau kiri. Bingung jawabnya.

Di Jogja, masyarakat jarang berkomunikasi dengan pemahaman kanan atau kiri. Merapi, Tugu, Kraton, Pantai Selatan lebih umum jadi pedoman ketimbang kanan dan kiri. Kepercayaan yang usianya lebih tua daripada yang di kanan dan kiri.

Saya sudah banyak melihat orang-orang kanan dan kiri banyak yang tersesat di Jogja. Entah mereka salah bertanya atau memang tidak menguasai medan, dalam artian sosio-kulturalnya.

Batasan kanan dan kiri itu saru, bahkan lebur.
Apa yang kanan akan jadi kanan jika dilihat dari Tugu tapi bisa jadi kiri jika dipandang dari Kraton.

Awesomeness of Laravel Migration (mungkin part 1)

Saya kembali dengan hal yang sedikit dan agak teknis. Kali ini tentang bagaimana Laravel Migration bisa menyelamatkan akhir pekan dan membuat saya bisa maraton nonton serial Tetangga Masa Gitu. Haha! Mungkin penemuan ini bukan hal yang sangat sophisticated, tapi semoga bermanfaat.

image from http://www.eccv.org

Jadi, kali ini ada challenge untuk migrasi data dari sebuah skema basis data ke skema lainnya. Sisi keren dari migrasi ini adalah akses data yang diberikan dari skema yang lama hanya berupa ekstraksi datanya saja; berupa file JSON. Setelah melakukan analisis berjam-jam untuk menentukan skema basis data yang sesuai dengan isi JSON tersebut *halah* maka proses parsing dan seeding tabel bisa dilakukan. Tapi bagaimana caranya?

Yang pertama saya pikirkan memang bagaimana bisa seeding database dengan file JSON menggunakan laravel migration. Daripada pake php biasa dan menggunakan browser, pasti terhambat request time dll… Kemudian saya nemu tutorialnya di sini http://dixitpatel.com/how-to-seed-database-from-json-in-laravel/ setelah beberapa kali googling dengan gonta-ganti keyword.

Intinya mengganti inputan seeder dengan file JSON tersebut.

Struktur file seeder Laravel yang ‘normal’:

http://pastebin.com/embed_iframe.php?i=pir74qXG
Kemudian bisa disesuaikan menggunakan inputan file JSON:

http://pastebin.com/embed_iframe.php?i=S6z14PLc

Jangan lupa edit file DatabaseSeeder.php, sesuaikan dengan nama file seeder yang mau dipanggil.

Sekian. Semoga menyelamatkan hari libur Anda.

Salam hangat untuk orang-orang terdekat.

*codenya belum bisa inline..hehe will be updated soon*