Jogja: Kanan – Kiri

image

Di sini, di Ibukota, saya sering bingung kalau ditanya kanan atau kiri. Bingung jawabnya.

Di Jogja, masyarakat jarang berkomunikasi dengan pemahaman kanan atau kiri. Merapi, Tugu, Kraton, Pantai Selatan lebih umum jadi pedoman ketimbang kanan dan kiri. Kepercayaan yang usianya lebih tua daripada yang di kanan dan kiri.

Saya sudah banyak melihat orang-orang kanan dan kiri banyak yang tersesat di Jogja. Entah mereka salah bertanya atau memang tidak menguasai medan, dalam artian sosio-kulturalnya.

Batasan kanan dan kiri itu saru, bahkan lebur.
Apa yang kanan akan jadi kanan jika dilihat dari Tugu tapi bisa jadi kiri jika dipandang dari Kraton.

Hidup Kita Adalah Smartphone (?)

LINIMASA

Tadinya, hari ini sudah ada ide tulisan lain yang akan saya tuangkan di sini. Namun kenyataan berkata lain.

Sebenarnya sudah sekitar dua bulan ini, mobilitas saya sedikit terhambat. Penghambat itu adalah telpon selular (ponsel), yang notabene harusnya membantu mobilitas. iPhone 5 yang sudah saya gunakan selama 2 tahun dan 8 bulan, sering mendadak mati karena daya baterenya habis. Mau tidak mau, setiap keluar rumah, saya harus membawa tidak hanya satu, tapi bisa dua sampai tiga powerbank, di samping charger utama si telepon. Kadang piranti ponsel tidak mau membaca kabel charger baik dari yang utama maupun yang tambahan. Kalau tidak bawa satu pun dari mereka, pasti resah sepanjang jalan. Di setiap kesempatan, pasti saya charge telepon ini. Begitu sampai ruang meeting, saya langsung cari outlet charger di pojokan. Begitu film utama diputar di bioskop, saya langsung aktifkan Airplane mode, dan charge ponsel dengan menggunakan salah satu powerbank

View original post 734 more words